Pada Kamis, 17 November 2016, LPPMD Unpad melaksanakan diskusi bedah buku Filsafat Negasi (2016) karya Muhammad Al-Fayyadl di Bale Pabukon, Unpad. Diskusi tersebut dimulai pada pukul 13.30 WIB sampai 16.00 WIB. Acara diskusi dihadiri oleh sekitar 70 peserta, mulai dari mahasiswa Unpad, UIN Bandung, Unpar, sampai ITB. Dalam diskusi tersebut hadir penulis Filsafat Negasi, Muhammad Fayyadl dan pembedah buku, Alfathri Adlin, mahasiswa S-2 STF Driyarkara.

Setelah acara dibuka oleh pembawa acara, Mulia M. R., dan setelah sambutan dari Aldo Fernando, Ketum LPPMD, moderator diskusi bedah buku, Aldo Fernando, memandu jalannya diskusi. Mula-mulai, moderator menjelaskan maksud kawan-kawan LPPMD mengadakan acara diskusi bedah buku di kampus Unpad, yakni salah satunya untuk terus menyalakan api kritisisme lewat filsafat di kampus Unpad. Setelah itu, moderator memberikan kesempatan kepada penulis untuk menjelaskan poin-poin penting dalam buku Filsafat Negasi tersebut.

 

Sesi Pembahasan Buku

Fayyadl, sang penulis, mengatakan bahwa ia ingin mengajak kawan-kawan untuk berpikir bersama mengenai hal-hal yang direfleksikan dalam diskusi filsafat. Ia memulai dengan mengatakan bahwa kita cenderung menerima dunia sebagai sesuatu yang terberi (given). Nah, filsafat ingin menguliti dunia yang kita terima begitu saja (taken for granted). Dalam hal ini, menurut Fayyadl, realitas atau kenyataan adalah suatu pertanyaan bagi filsafat. Ia mencontohkan, kita dapat bertanya mengenai apa itu ilusi persepsi atau kesadaran?

Ia memberi contoh pertanyaan tersebut karena terma “kesadaran” mewarnai buku Filsafat Negasi. Menurut Fayyadl, jika dunia kita pahami sebagai yang terberi, itu berarti kita memiliki kesadaran pasif. Kesadaran pasif inilah yang memunculkan problem pasivitas.

Sebelum beranjak lebih jauh, Fayyadl menampilkan lukisan Ferdinand Hodler, Lake Geneva From Chexbress, lewat layar proyektor yang terhubung dengan laptop. Dengan menggunakan medium lukisan tersebut Fayyadl ingin mengajak peserta diskusi untuk memahami sedikit mengenai persepsi. Persepsi, menurutnya, tidak memungkinkan kita untuk melihat perubahan. Barangkali, danau itu tidak seperti yang dilukis oleh Hodler, atau mungkin sekarang sudah berubah tidak seperti itu lagi.

Dari penjelasan itu Fayyadl melompat lagi ke perkara kesadaran. Menurut Fayyadl, terdapat beberapa macam kesadaran, di antaranya kesadaran naturalistik, skeptis, ironis (sinis), dan rejeksionis. Kesadaran rejeksionis ia bagi menjadi tiga: 1) pasif, yakni menolak kenyataan tetapi tetap pasif; 2) pseudo-aktif (nostalgis), selalu mengaitkan masa kini dengan dan sembari memuja masa lalu; 3) aktif. Nah, pada kesadaran rejeksionis aktiflah negasi menjadi mungkin. Negasi, kata Fayyadl, adalah bentuk kesadaran lain.

“Buku saya adalah interpretasi mendasar atas negasi,” demikian kata Fayyadl.

Negasi, menurut reinterpretasi Fayyadl, merupakan konsep yang nyaris terlupakan dalam filsafat. Ia menyusuri konsep tersebut dengan menelaah ide-ide para filsuf besar di abad lampau. Pertama ia menyebut nama Immanuel Kant. Konsep negasi dalam filsafat Kant muncul dalam bentuk sebagai kualitas putusan: X bukan Y, realitas dinegasikan → menjadi ketiadaan (nothingness).

Lalu, Hegel. Hegel, demikian kata Fayyadl, memungkinkan kita untuk berpikir tentang ketiadaan. Bagi Hegel, negasi adalah determinasi, yakni selalu melekat dalam substansi). Misalnya: di dalam botol mineral yang kemudian berkurang dari penuh menjadi berisi ¾ air, terdapat ketiadaan di dalamnya. Maksudnya, ketiadaan melekat dengan adanya air di dalam botol tersebut, yang tadinya penuh sebelum diminum si X. Namun, menurut Fayyadl, negasi Hegelian itu bukanlah negasi yang ia maksud, melainkan negativitas.

Kemudian Fayyadl membahas konsep negasi dalam filsafat Parmenides. Bagi Parmenides, yang ada adalah yang ada. Yang tidak ada adalah fiksi. Karenanya, negasi tidak dimungkinkan. Ini berkaitan dengan ide dasar Parmenides bahwa realitas tetap dan tidak berubah. Pemaparan Fayyadl mengenai konsep negasi kemudian berlanjut dengan membahas pemikiran Sartre. Bagi Sartre, negasi dianggap sebagai sesuatu yang tidak ada tetapi memungkinkan sesuatu yang ada itu ada. Ketiadaan (nothingness) dalam filsafat Sartre lebih fundamental daripada yang-ada. Filsafat Sartre tersebut memungkinkan ketiadaan untuk dipikirkan.

Setelah menjelaskan konsep negasi yang dipikirkan oleh sejumlah filsuf, kemudian Fayyadl mengatakan bahwa ia memikirkan konsep baru mengenai negasi. Negasi, menurutnya, bukanlah objek. Negasi adalah gerak terarah kepada dunia yang terberikan. Negasi bukanlah objek intuisi, kecuali jika ia berubah menjadi pasivitas.

Kemudian, setelah Fayyadl memaparkan sekelumit ide-ide dasar dalam Filsafat Negasi, moderator mempersilahkan Alfathri Adlin, sebagai pembedah, untuk berbicara kepada peserta diskusi mengenai buku Filsafat Negasi tersebut.

Mula-mula, ia mengatakan bahwa, karena sang penulis sudah memaparkan ide-ide dasar buku tersebut secara detil dan jernih, ia tidak akan membahasnya. Menurut Alfathri, Filsafat Negasi merupakan buku filsafat pertama yang memulai pemaparan filosofis tanpa basa-basi.

“Buku yang mencoba berfilsafat secara lebih spesifik,” demikian katanya. Buku tersebut langsung, menurut Alfathri, mengajak kita untuk mengeksplorasi ranah filsafat yang dibahasnya.

Alfathri kemudian mengaitkan usaha Fayyadl tersebut dengan budaya literasi yang rendah di Indonesia. Padahal, menurutnya, budaya literasi bisa menciptakan distansi (penjarakan) kritis. Ia juga menekankan bahwa bahasa dapat membantu pengembangan pola pikir kita, seperti dengan cara menguasai bahasa asing, misalnya. Menurutnya, salah satu problem yang menghinggapi pendidikan kita adalah kurangnya laku abstraksi mahasiswa. Hal tersebut berkaitan dengan minimnya keinginan mahasiswa untuk membaca. Nah, budaya literasi itu yang harus terus dibangun oleh kita semua.

 

Sesi Diskusi Tanya-Jawab

Setelah sesi pembahasan buku oleh penulis dan pembedah, acara bedah buku dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Moderator memberikan dua termin tanya jawab, masing-masing termin disediakan untuk tiga penanya. Berikut ini akan dibahas dua dari enam penanya dalam sesi tanya-jawab.

Keterangan gambar: Peserta diskusi bedah buku Filsafat Negasi sedang mendengarkan pemaparan dari penulis buku, Al-Fayyadl

Ikram (Unpad), salah satu penanya dalam diskusi, mengajukan pertanyaan: apakah mungkin kita bisa melihat gerak tanpa objek itu sendiri? Dan bagaimana relasi antara filsafat negasi dan Islam di Indonesia?

Terhadap pertanyaan itu Fayyadl menjawab bahwa gerak yang dimaksud dalam konsep negasi miliknya bukanlah gerak dalam artian fisikalistik, melainkan gerak subjektif yang nonfisik dan nonnatural. Fayyadl menambahkan, gerak itu bukan objek. Dalam negasi, gerak tersebut memungkinkan objek untuk dinegasikan. Mengenai pertanyaan kedua, Fayyadl menjawab bahwa pertanyaan kedua tersebut pelik. Kita perlu bertanya, kata Fayyadl, dalam hal ini sebagai apa kita memperlakukan Islam? Sebagai objekkah? Sebagai utopiakah? Menurut Fayyadl, kaitan antara Islam dan negasi ada dalam tataran objektif. Namun, itu perlu dijelaskan lebih lanjut untuk lebih detilnya.

Pak Alfathri ikut menjawab perihal pertanyaan kedua yang diajukan oleh Ikram. Menurutnya, serupa dengan jawaban Fayyadl di atas, kita sebenarnya berbenturan dengan definisi Islam itu sendiri. Dalam kaitannya dengan itu, ia menjelaskan bahwa tradisi filsafat Barat itu self-cancelling (pembatalan-diri), yakni membantah dan mengkritisi pemikiran sebelumnya. Dengan kata lain, terdapat dialektika terus menerus dalam filsafat.

Keterangan gambar: Salah seorang peserta diskusi (mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung) sedang mengajukan pertanyaan kepada penulis dan pembedah buku.

Pertanyaan lainnya datang dari salah seorang mahasiswa ITB. Ia mengajukan pertanyaan perihal konsep ketakterhinggaan dalam matematika: Apakah mungkin ada relasi antara filsafat negasi dan ketakterhinggaan? Dan apakah mungkin dilakukan analisis fenomenologi mengenai ketakterhinggaan dalam matematika?

Untuk pertanyaan di atas, Fayyadl menjawab dengan menjelaskan bahwa ketakterhinggan itu horizon. Ketakterhinggan tidak bisa diobjektivikasi, kecuali menjadi terhingga. Sebagai cakrawala, demikian kata Fayyadl, ketakterhinggaan terbuka untuk dinegasi.

Setelah sesi diskusi tanya-jawab selesai, dilakukan sesi pemberian cenderamata kepada penulis dan pembedah oleh moderator. Dengan demikian, acara diskusi bedah buku Filsafat Negasi berakhir.

Akhir kata, LPPMD Unpad berterimakasih banyak kepada semua pihak yang sudah ikut berpartisipasi, menghangatkan dan menyukseskan diskusi bedah buku Filsafat Negasi beberapa waktu lalu. Semoga nyala api kritisisme kita terus terjaga di hadapan dunia. Salam pembebasan! (Aldo Fernando Ns, Ketua Umum LPMD Unpad 2015-2016)

 

Catatan: Tulisan di atas merupakan hasil pemadatan dari sesi diskusi bedah buku yang telah dilaksanakan. Apalagi, di dalam diskusi bedah buku tersebut, penulis dan pembedah buku belum memaparkan ide-ide penting di dalam Filsafat Negasi secara keseluruhan dan mendetil. Untuk memahami dan berdiskusi lebih jauh, disarankan untuk membaca buku Filsafat Negasi secara langsung. Teman-Teman bisa membeli buku tersebut di akun Facebook penerbit Cantrik Pustaka atau melalui Twitter @cantrikpustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here