Borges adalah pionir sekaligus sumber ilham, pembuka jalan bagi pintu kreativitas penulisan prosa. Anggap saja teknik penulisan Borges sebagai gaya eksperimentasi (salah satu penganjur sastra fantasi), dengan tilas-tilas yang diikuti oleh banyak peniru kreatif lainnya.

Sebagian peniru itu, dengan mengembangkan teknik dan ilham yang diteteskan Borges, lantas menjadi novelis dengan keunikan artikulasinya masing-masing. Sebut saja sedikitnya Gabriel Garcia Marquez, Umberto Eco, Italo Calvino, Milorad Pavic, juga Paulo Coelho.

Mereka adalah nama-nama sastrawan dunia yang memperoleh ilham bentuk-bentuk penulisan prosa Borgesian. Meski Borges sendiri banyak diilhami oleh bentuk karya dari para penulis pendahulu, seperti prosa Robert Louis Stevenson, maha karya Alf Laila wa Laila, dan beberapa konsep filsafat dari, di antaranya, George Berkeley dan Arthur Schopenhauer, sebagaimana sering ia sebut sendiri dalam prosa-prosa serta esainya.

Cara bercerita Borges tidak hanya terperinci dan hidup, melainkan juga membuat kita mempertanyakannya dan mencari lagi dan lagi, karena ragu-ragu sekaligus terpesona dengan modelnya.

Gaya menikung yang dijalaninya lebih tahan uji dari situasi zaman yang punya selera berubah-ubah. Ia punya karakteristik yang bisa ditandai, antara lain, bertalian dengan gayanya yang terampil dalam—untuk meminjam sebaris kalimat pembuka cerita Tlon, Uqbar, Orbis Tertius—“menyelewengkan fakta-fakta dan bermain-main dengan pelbagai kontradiksi.”

Jadi, jangan heran bila mendapati hampir semua kisahnya menerabas keumuman gaya bercerita, yang secara jamak patuh pada penggunaan teknik-teknik psikologi seperti suara batin tokoh-tokohnya (monolog interior) serta arus kesadaran (stream of consciousness).

Cerita-cerita Borges bisa dibilang seperti sebuah perpaduan antara gaya bercerita dengan berbagai kemampuan menulis lainnya (hibriditas). Ia gabungkan antara gaya bercerita dengan menulis esai; mengawinkan gaya bercerita dengan gaya mengulas buku; mencampuri seni bercerita dengan berbagai fakta dan realitas sejarah; menyejajarkan gaya bercerita dengan menulis catatan harian dan seterusnya dan seterusnya.

Tak jarang di sana-sini dibikin meyakinkan dengan limpahan catatan kaki, sebuah perbandingan, sekaligus analogi tertentu. Sering pula membelokkan fakta dan realitas yang tertulis di buku-buku, menautkannya dengan berbagai hal untuk mengafirmasi, tetapi kerap juga membenturkannya dengan berbagai negasi.

Borges seperti terus konsisten menciptakan dunia dalam alam fiksi, yang bahan-bakunya semua isi perpustakaan (buku-buku, ensiklopedi, indeks-indeks catatan, berbagai literatur dunia yang mungkin ia bacai), tempat ia menghabiskan nyaris separuh hidupnya (sebagai pembaca buku yang rakus) dan menghidupkan hobinya (menjadi seorang pustakawan). Barangkali karena saking dekat dan cintanya terhadap buku-buku itulah, kenapa ia bisa punya pasase cantik ihwal perpustakaan: “I have always imagined that paradise will be a kind of library.

Pola-pola kisahnya bisa ditandai melaui, misalnya, ketika Borges sedang menceritakan waktu, labirin, dunia peniruan, maka sebetulnya ia sedang mendongengkan tema ketakberhinggaan.

Sementara ketika ia tengah bercerita mengenai cermin, mimpi, dua orang dirinya dari masa muda dan tua yang bertemu (identitas yang terbelah), sering ia sebetulnya tengah berkisah ihwal penggandaan. Dan di antara kedua tema itu, terbentang juga kisah-kisah bertema paralelisme.

Borges begitu menyukai dunia antah-barantah sebuah bangsa atau sekte tertentu, segenap kepercayaan dan kosmologi mereka; ritual, dogma dan ajaran-ajarannya; cara berhitungnya, dan segala aturan hidup keseharian yang berbeda dari dunia yang kita kenal, yang ia selundupkan ke dalam cerita-ceritanya. Latar dunia antah-barantah ini pernah dieksplorasinya secara maksimal misalnya dalam Tlon, Uqbar, Orbis Tertius.

Dalam buku Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina ini, kita juga akan menemukan tema-tema universal yang menjadi ciri khas Borges tersebut. Ada sejumlah cerita yang berlatar permainan sudut pandang, dengan tema pararelisme (Mawar Paracelsus, Kultus Phoenix, Sang Etnografer, Kongres, Memori Shakespeare, Emma Zunz, Ada Berbagai Macam Hal, Akhir, “Undr”, Cakram, Akhir dan Awal bagi Dirinya, Harimau Biru), pelaporan dunia etnografi (Laporan Brodie).

Juga, ada seolah-olah mengulas karya seorang pengarang (Suatu Tinjauan terhadap Karya-karya Herbert Quain), perjalanan waktu (Utopia Seorang Laki-Laki Putus Asa), relativitas waktu (Pedro Salvadores), dan penggandaan (Sang Teolog, Ulrikke, 25 Agustus 1983).

Membaca kisah-kisah Borges membawa kita pada keyakinan bahwa kadang yang utama dari sebuah cerita pendek adalah bagaimana alur diberi perhatian secara maksimal, sebagaimana yang diyakini dan dipraktikkan sendiri oleh Borges.

Lantas ditambah dengan kecerdikan dalam mengaduk serta mengacak antara realitas dan persepsi, juga fakta dan fiksi, menjadi saling mengisi dan melepas. Begitulah, dengan menggunakan permainan persepsi (yang dikembangkannya dari Berkeley), lahirlah cerita-cerita fantasi yang terolah secara piawai khas sastrawan Argentina yang tak pernah dapat Nobel itu.

Sumber: Jawa Pos, Minggu 12 Maret 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here