Al-Fayyadl membuka perbincangan dengan menjelaskan sumbangsih modernisme terhadap dunia. Mengutip Weber, ia mengatakan bahwa modernisme telah menyebabkan hilangnya pesona dunia. Perkembangan masyarakat yang begitu cepat hingga tidak terkendali membuat sebagian besar manusia merasa tidak memiliki kuasa atas apapun yang terjadi. Karenanya manusia dibuat seolah tidak lagi memiliki pilihan selain menerima dunia sebagaimana adanya saat ini. Manusia tidak lagi mempertanyakan dunia, seakan tak ada yang salah dengan semua yang terjadi dan bahwa sikap menolak tidaklah berarti.

Menurut Al-Fayyadl, kondisi ini sesungguhnya secara sadar dikehendaki oleh status quo, bahwa dunia yang ada dan segala hal aktual yang terjadi di dalamnya adalah sesuatu yang given. Barangkali inilah yang menyebabkan aktivitas para filsuf dalam berpikir dan mengatakan kebenaran amat ditentang oleh golongan gereja pada masa kegelapan. Status quo menyadari betapa berbahayanya filsafat bagi kenyamanan mereka.

Celakanya, filsafat negasi mengindikasi bahwa modernisme telah memicu kelahiran kembali masyarakat yang nerimo ini. Lebih jauh, modernisme juga mengarahkan manusia untuk menjadi nihilis: jika tidak bisa atau tidak mau mengikuti ritme dunia, maka pilihannya hanya satu yaitu memutuskan hubungan dengan dunia (mati). Semua ini pada akhirnya menyebabkan dunia menjadi stagnan. Ilmu dan pemahaman atas dunia tidak lagi berkembang pesat seperti pada masa sebelum modernisme hadir. Keseleruhan kondisi inilah yang penulis rasa menjadi kritik utama filsafat negasi.

Filsafat negasi hadir sebagai filsafat kebaharuan. Para penganut aliran filsafat ini percaya bahwa hanya dengan menolak dunia, kebaharuan akan terus muncul. Dengan cara ini pula, filsafat sebagai suatu proses berpikir akan tetap berarti karena manusia selalu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru yang akhirnya membuat proses berpikir tidak pernah selesai dan pemahaman mengenai dunia tidak pernah mencapai titik final.

Penolakan yang dimaksud negasi bukanlah upaya untuk membunuh ide-ide yang tercetuskan, melainkan sebuah upaya untuk terus mengembangkan ide tersebut sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan. Namun, bukankah dunia dengan sendirinya terus mengalami perubahan? Lalu mengapa manusia harus mengupayakan perubahan? Al-Fayyadl percaya bahwa dunia berubah karena manusia menghendakinya, bukan karena ritme dunia itu sendiri. Pemikiran ini merupakan kritik atas dialektika Hegel yang meyakini bahwa negasi dibuat oleh sejarah. Bagi Al-Fayyadl, negasi tidaklah abstrak dan pelakunya bukanlah sejarah, roh, atau Tuhan melainkan subjek yang konkret: manusia.

Pemikiran ini dilandaskan pada filsafat eksistensialisme Hussel yang mengatakan bahwa hubungan manusia dan dunia dimediasi oleh kesadaran, sehingga perubahan atau pembaharuan hanya terjadi sejauh kesadaran bekerja. Ini pula yang menurut penulis menjadi urgensi dari filsafat negasi yaitu untuk terus menyadarkan manusia bahwa sebagai makhluk yang mampu bernalar, mereka memiliki kehendak atas perubahan dan dunia masih belum habis untuk dieksplorasi serta dipahami.

Meski Al-Fayyadl menyatakan bahwa filsafat tidak pernah memiliki tugas khusus untuk mengubah sesuatu karena sejatinya ia tak mengandung nilai utilitarian, penulis merasa bahwa menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perkembangan dunia dan peradaban manusia adalah fungsi utama dari filsafat. Karenanya, penulis berpendapat bahwa karya tulis ketiga Al-Fayyadl ini dapat dikatakan sebagai upaya untuk menjaga filsafat tetap seksi dan berarti bagi peradaban manusia. Dan ia berhasil melakukannya, setidaknya kepada saya.

Benar apa yang dikatakan oleh Bapak Mulyadi A. Malik bahwa buku Filsafat Negasi karya Al-Fayyadl ini bukanlah sebuah bacaan yang mudah dipahami oleh pemula karena kontennya berat dan cocok dibaca oleh para pelajar filsafat tingkat lanjut. Sebagai mahasiswa yang langka bersentuhan dengan buku-buku filsafat, pun dengan diskusi mengenai filsafat, penulis merasa kesulitan untuk memahami pembicaraan sepanjang acara tersebut.

Penulis hanya  bisa mencatat sambil melakukan “cocoklogi” dengan materi-materi yang pernah penulis terima di kelas. Kiranya aliran filsafat yang satu ini akan menarik untuk dibahas lebih lanjut di kelas, karena untuk memahami filsafat negasi mahasiswa dituntut untuk juga memahami pemikiran-pemikiran filsafat lainnya. Sehingga satu dua pulau akan terlewati, kata pepatah.

Sebagai penutup, penulis ingin mengutip perkataan Al-Fayyadl bahwa negasi akan berhenti ketika dihadapkan dengan kebebasan. Negasi tidak dapat menegasikan kebebasan karena kebebasan tidak dapat dinegasikan dengan ketidakbebasan. Misalnya seorang yang bebas harus dipenjara agar ia merasa benar-benar bebas, adalah sebuah kekeliruan. Sehingga dihadapan kebebasan, negasi menemukan pemberhentian. Ketika kebebasan tercapai, dalam bentuk apapun itu (baik kebebasan manusia dari segala macam kata dan konsep sehingga kemurnian consciousness bisa direguk, maupun kebebasan fisik atau kebebasan-kebebasan lainnya), negasi menjadi bisu.

*) Tulisan ini merupakan seri tugas Mata Kuliah Filsafat Komunikasi, Universitas Airlangga, Surabaya. Resume Acara Bedah Buku “Filsafat Negasi” Karya Muhammad Al-Fayyadl. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here