Ada tiga garis keturunan sastra yang menyebabkan Borges dilupakan dalam kesusastraan Argentina. Tiga garis keturunan ini bereaksi melawan Borges sebagai pijakan utama dalam berkarya. Mereka yang menyebabkan—dalam bahasa Bolano—kiamat kesusastraan Argentina atau Amerika Latin.

Garis keturunan pertama adalah oleh Osvaldo Soriano. Penulis novel kriminal ini mengajarkan kepada masyarakat sastra bahwa karya sastra tidak perlu dibuat dengan keseriusan dan ketekunan. “Apa yang telah dipelajari oleh para penulis Argentina dari Soriano adalah mereka, juga, bisa menghasilkan uang (hal.18).” Soriano, menurut Bolano, telah membentuk pemikiran masyarakat bahwa karya sastra bisa membuat orang kaya, tenar, dan terhormat. Kecenderungan mengejar iming-iming itu sering menepikan etos bersastra. Maka apa yang ditulis oleh Soriano adalah cerita-cerita yang selalu berulang-ulang. Cerita yang melulu berisi tarian tango, banyak persahabatan dan solidaritas, dan sedikit humor. Tidak ada kebaruan tema atau bentuk. Sebab yang dikejar bukan bagaimana menghasilkan karya bagus tapi ketenaran nama pengarang.

Garis keturunan kedua adalah Roberto Arlt. Karya-karya Arlt, menurut Bolano, tidaklah buruk. Ia termasuk generasi yang tumbuh di masa Borges. Kalau borges lahir pada 1899, Arlt lahir 1900. Setahun lebih muda dari Borges. Tapi apa yang membuat Arlt termasuk daftar sastrawan yang bereaksi melawan Borges? Arlt memiliki semacam “Santo Paulus” yang membuat nama Arlt bangkit dari “peti mati”, Ricardo Piglia.

Peran Piglia melahirkan gaya sastra yang dikenal Arltian atau Piglian.  “Dilihat sebagai sebuah lubang kakus atau sebuah ruang bawah tanah, karya Arlt tampak baik-baik saja… Dilihat sebagai kamar mandi, karya itu akan berakhir dengan memberi kita penyakit kudis. Dilihat sebagai perpustakaan, karya itu merupakan jaminan kehancuran sastra (hal.23).”

Dan yang terakhir, Garis keturunan ketiga adalah Osvaldo Lamborghini. ”Kawan-kawan Lamborghini ditakdirkan untuk menjiplak dirinya hingga mual, sesuatu yang mungkin—seandainya dia bisa melihat mereka muntah—akan membuat Lamborghini sendiri bahagia (hal.27).”

Diibaratkan oleh Bolano seumpama kesusastraan Argentina adalah rumah. Roberto Arlt adalah ruang bawah tanah, Osvaldo Soriano adalah vas bunga di ruang tamu, dan Lamborghini semacam kotak kardus yang tertutup debu. Ketiga nama itu berperan dalam menyingkirkan Borges sebagai patron kesusastraan Argentina atau kesusastraan Amerika Latin. Mereka lewat persengkokolannya bisa membuat pengikutnya menjiplak gaya atau bentuk karya sastra ciptaannya. Borges tak lagi menjadi pijakan atau rujukan untuk bersastra.

Ketika keadaan kesusastraan rentan disisipi persengkokolan pertemanan. Dan bentuk atau gaya sastra tampak dikontrol oleh figur-figur sastawan tertentu. Roberto Bolano mengingatkan orang-orang agar kembali pada Borges. Sebab pada masa itulah kesusastraan Argentina atau Amerika Latin, para sastrawan berkarya dengan gaya dan genre masing-masing. Menyitir sajak Chairil Anwar, mereka semua tercatat dan mendapat tempat.

 

Pemberontak Sastra

Cerita-cerita Roberto Bolano jarang menggunakan nama-nama tokoh fiktif. Kebanyakan ceritanya menggunakan nama sastrawan yang memang benar ada di dunia nyata. Bolano tampak tidak canggung atau takut untuk secara gamblang memberikan pujian atau ejekan kepada sastrawan yang ia ceritakan. Ia yakin terhadap apa yang harus dilawan dalam arus besar kesusastraan Amerika Latin. Tokoh-tokoh sastra yang dijadikan kanon ia gugat dengan mengajukan beberapa nama sastrawan yang ia anggap lebih pantas dijadikan patron. Kepada  masyarakat sastra Amerika Latin ia berkata: “Konsekuensi logis. Seseorang harus membaca ulang Borges (hal.29).”

Buku Lelucon-lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan memuat cerita-cerita yang bersinggungan dengan dunia sastra Amerika Latin. Roberto Bolano bisa dengan sangat fasih memetakan kesusastraan Amerika Latin yang digarapnya dalam cerita, lengkap dengan nama sastrawan dan karyanya.

Cerita-cerita yang digarap Bolano seperti mengabarkan bahwa cerita tak melulu dibuat lewat lamunan atau awang-awang, tetapi harus lewat pendalaman bacaan. Cerita bertugas menyampaikan gagasan pengarang. Maka kita bisa saja dengan sangat mudah, dalam cerita-cerita Bolano, menemukan nama-nama sastrawan yang dipuji atau diejek Bolano. Pujian atau ejekan yang diberikan disampaikan dengan topangan argumentasi yang kuat.

Jika kita menganggap bahwa cerita yang bagus harus ditulis dengan kalimat yang efektif, pendek, dan “tidak berbelit-belit”. Berarti kita sama saja menganggap cerita-cerita Bolano jelek. Sebab hampir di semua ceritanya, Bolano bercerita dengan kalimat panjang-bertingkat. Kalimat-kalimat yang kaya tanda koma. Bolano tampak ingin mengajak pembacanya menikmati ceritanya lewat bahasa yang tidak sederhana.

Justru lewat kalimat yang panjang dan “berbelit-belit” itu kita bisa tahu kemampuan pengarang dalam mengekplorasi tema dan menciptakan efek cerita. Jadi, singkirkanlah anggapan bahwa bercerita dengan kalimat panjang itu berbelit-belit. Kita nikmati suara pemberontak sastra yang dihadirkan dengan kalimat tak sederhana. Di karya Bolano model seperti itu berlimpah.[]

 

Resensi buku ini pernah dimuat oleh Solo Pos, 24 September 2017 oleh Muhammad Yunan Setiawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here