Foto oleh: Rizal Marsaoly

Mainan penting bagi anak,

Tapi tak kalah pentingnya

Bermain bersama anak

 

BEGITU A. Dardiri Zubairi membuka tulisan Sensasi Kegilaan Bermain dengan Anak (hal 133). Kalimat itu memang sederhana, tapi penuh makna. Khususnya terkait hubungan orangtua dengan anak. Itu berkenaan dengan pengasuhan, pendampingan, dan pendidikan orangtua kepada anak. Juga, fungsi benda sebagai mainan anak.

Pembiaran anak berkembang tanpa campur tangan orangtua (ayah dan ibu) tidak baik. Kehadiran orangtua sangat menentukan masa depan si malaikat kecil itu. Jangan sampai keberadaan orangtua seperti tiada alias anak menjadi yatim ketika orangtuanya masih hidup.

Kuncinya ada pada keteladanan. Orangtua dituntut menjadi guru pertama sebelum dia mengenyam pendidikan formal. Orangtua tidak hanya main tunjuk sana, tunjuk sini, perintah ini dan itu. Tapi dirinya tidak pernah melakukan. Atau bahkan justru melanggar kesepakatan rumah tangga.

Dardiri yakin persoalan yang dilakukan remaja belasan tahun tidak muncul seketika. Orang Madura bilang, tadha’ aeng agili ka olo (tak ada air mengalir ke hulu). Pasti ada azbabun nuzul yang menyebabkan anak begini atau begitu. Terutama pola pengasuhan anak itu saat masih bocah oleh orangtua.

Keberadaan anak juga menjadi cermin orangtua untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Keteladanan tidak hanya ditunjukkan di depan anak. Saat anak tidak ada sekalipun, hal-hal yang diajarkan kepada si buah hati harus dilakukan sebagai komitmen bahwa orangtua tidak hanya piawai bicara.

Komunikasi atau musyawarah perlu dibangun dari rumah. Kali pertama ayah dan ibu membicarakan atau merumuskan prinsip atau garis besar pengasuhan anak. Ini perlu untuk menyamakan persepsi agar tidak terjadi perbedaan dalam menangani masalah anak. Sehingga pola pengasuhan anak bisa terencana. Kemudian, musyawarah melibatkan anak. Anak hendaknya bagaimana. Sanksinya juga harus disampaikan.

Selanjutnya tinggal konsisten menjalankan konsensus rumah tangga itu. Jika anak melanggar, sanksi harus ditegakkan. Pada kondisi tertentu, kata Dardiri, orangtua wajib tegas dan perlu keras (hal 117) agar anak tidak menilai orangtua sebagai sosok yang plinplan.

Itu perlu diterapkan meski orangtua didera rasa kasihan. Kasih sayang tidak harus dilakukan dengan cara membiarkan kemauan anak tanpa rambu-rambu orangtua. Dardiri mencontohkan, pada umur berapa anak harus mulai puasa. Dan, apa sanksi yang harus diterima jika tidak melaksanakannya. Juga, bagaimana jika anak terbukti berbohong.

Dalam buku setebal 154 halaman ini Dardiri banyak membicarakan soal uang jajan anak, permintaan atau tuntutan anak, yang ujung-ujungnya hanya bertumpu pada persoalan benda mati. Orangtua banyak kalah dan menyerah untuk tidak memberi sesuatu itu hanya karena agar anaknya sama dengan tetangga atau temannya.

Padahal, pemenuhan benda-benda itu bisa berakibat fatal pada masa depan anak dan orangtua. Anak akan menjadi pribadi penuntut, dalam bahasa penulis, jadi bos di rumahnya. Sementara orangtua mau tidak mau dipaksa memenuhi kebutuhan anak. Alamak!

Akhirnya, tegal, sawah, dan ternak yang jadi sumber penghasilan orangtua di desa dijual hanya untuk beli motor, handphone bermerek demi ”menyamakan” anak dengan yang lain. Di sinilah orangtua kehilangan martabatnya yang seharusnya dihormati.

Buku ini terbagi menjadi tiga bab. Bagian refleksi terdiri atas 21 judul. Bab kedua, inspirasi terdiri dari 18 bagian. Bagian terakhir tentang metode dibagi menjadi 19 judul.

Secara umum, buku ini mengajak pembaca kembali mengeja pola asuh anak. Sudah benarkah kita mengasuh dan mendidik anak? Dengan bahasa yang renyah, Dardiri memberi alternatif permasalahan dalam menangani masalah anak. Itu berdasar pengalaman penulis dan istrinya dalam mengasuh kedua anaknya. Juga, berbagai problematika yang disampaikan komunitas ibu-ibu wali murid PAUD yang selalu dia hadiri setiap minggu.

Namun, pada Perkosa Itu Apa Sih, Mi? dan Nak, Kok Saling Pamer ’Burung’ Sih? Dardiri belum menawarkan solusi atas persoalan seks. Ini berbeda dengan pembahasan yang lain. Dia mengakui bicara seks dengan anak merupakan hal tabu, di daerahnya.

Hanya, dia –merujuk pada sebuah penelitian– menyatakan bahwa mendidik anak untuk pantang melakukan seks bebas lebih berhasil ketimbang mengenalkan pendidikan seks. Pada bagian ini dia mengajak diskusi pembaca.

Soal merangsang imajinasi dan kreativitas anak jadi perhatian khusus Dardiri. Secara beruntun penulis membagi jadi tiga bagian. Sihir Mendongeng Bagi Anak (216); Sihir Mendongeng Bagi Anak, dari Pendengar Menjadi Pembaca (hal 219); dan Sihir Mendongeng Bagi Anak, dari Pembaca Menjadi Penulis (hal 222).

Sementara itu, pada Tangis Anak Pulau, Korban Pesona Jakarta terkesan ada yang kurang. Penulis tidak menyebut secara jelas pulau apa yang dimaksud marak warga urban ke Jakarta. Dardiri hanya menyebut pulau itu tempat istrinya dilahirkan. Namun kalau bukan ”orang dekat”, butuh penjelasan lebih.

Padahal, saya yakin, buku ini akan dikonsumsi pembaca umum, melampaui batas wilayah. Seperti Dardiri sadari dalam beberapa bagian yang menyatakan ”di desa saya”, ”di kampung saya”, dan lain-lain. Dengan kata lain, dia sadar tulisannya akan dikonsumsi tidak hanya orang-orang sekitarnya.

Selain itu, berkenaan dengan waktu perlu diperhatikan. Misal, penggunaan kata ”kemarin” (hal 56 dan 88), ”seminggu yang lalu” (hal 58), ”akhir-akhir ini”, ”sekarang” (hal 160), ”sampai detik ini” (hal 161), dan ”hingga detik ini” (hal 162). Padahal, tiga kata penunjuk waktu yang disebut terakhir itu terkait dengan umur anak penulis yang terus bergerak.

Selain itu, penulis menggunakan kata ”dua hari yang lalu” (hal 207), ”sekarang” (hal 211), dan ”Ramadan ini” (hal 214). Lalu, ”agustusan seperti ini” (hal 234), dan ”saat ini” (hal 243). Untuk memahami maksud waktu yang diinginkan penulis, pembaca harus tahu kapan tulisan itu digarap. Padahal 58 judul tulisan dalam buku ini tidak selesai sesaat sebelum terbit hingga sampai di tangan pembaca. Buktinya, pada Jauhkan Malapetaka dari Anak Anda ditulis 29 September 2011 (hal 250).

Alangkah lebih baik jika penunjuk waktu itu diperjelas agar pembaca tidak bertanya-tanya kapan yang dimaksud ”hari ini”, ”kemarin”, ”seminggu yang lalu”, dan lain sebagainya. Itu akan lebih tepat jika menggunakan penunjuk waktu yang pasti dengan disertai tanggal, bulan, dan tahun seperti halaman 250.

Penyebutan umur kedua anak penulis juga perlu diperjelas. Sebab, umur terkait waktu. Jika diabaikan pembaca akan terjebak pada pemahaman bahwa umur Abed dan Adel baru sekian bulan atau tahun ketika buku ini dibaca. Padahal, umur itu terkait waktu saat penulis menyampaikan gagasannya. Apalagi, penulisan yang satu dengan yang lain berbeda waktu, otomatis umur kedua anak itu berbeda.

Meski demikian, buku ini tetap layak dibaca sebagai referensi orangtua dalam mendidik anak. Calon pengantin, ayah-ibu, guru (terutama PAUD, TK/RA, SD/MI) perlu baca buku ini. Seperti dikatakan penulis, pendidikan karakter sangat tepat diberikan pada anak usia dini. Jadilah orangtua yang sebenarnya. Bukan adanya seperti tiada dan seolah-olah. Sehingga, keberadaan anak tidak jadi yatim saat orangtuanya masih lengkap.

Buku ini tidak hanya bicara anak. Bersayap pada persoalan nasionalisme melalui bola, religiusitas, budaya, dan lain-lain. Jika hendak dicetak ulang, perlu dipertimbangkan beberapa hal di atas agar lebih baik. Termasuk penulisan beberapa kosa kata bahasa Madura. Salam! (*)

* tulisan ini pertama kali terbit di Jawa Pos dalam rubrik Resensi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here