Ilustrasi: Aak Ayik Husein

Di sebuah upacara pemakaman yang hening, Jacques Derrida berada di tengah-tengah sekumpulan orang, menyampaikan sebuah ceramah, semacam eulogy untuk teman dan sekaligus gurunya yang baru saja meninggal dunia: Emmanuel Levinas. Dengan “kata-kata yang telanjang, tanpa hiasan”, selain berduka cita, Derrida juga menyangsikan keberadaan dirinya di tengah upacara pemakaman itu.

Kepada siapa seseorang berbicara di saat momen seperti ini? Dan atas nama siapa seseorang mengizinkan dirinya untuk berceramah di saat upacara pemakaman?

Sebagai peristiwa biologis, kematian bisa jadi memang lebih pekat dari ketiadaan. Ia adalah momen penghentian total atas seluruh organ. Bahkan jauh lebih mengerikan dari itu, kematian tidak hanya menandai kelumpuhan tubuh fisikal, tetapi juga berarti hilangnya sebuah nama, robohnya stabilitas sistem tanda—karena petanda transendentalnya sudah (selalu) tertinggal jejaknya.

Karena itu kematian bukan hanya peristiwa biologis, melainkan juga sebuah peristiwa linguistik. Pada saat kematian tiba, seluruh tatanan kebahasaan menjadi goyah. Bukan karena efek psikologis manusia ditinggal orang-orang terdekatnya, melainkan karena pada saat itu ada satu petanda transendental beserta seluruh horizonnya yang tak bisa lagi direngkuh oleh bahasa.

Sudah lama, bahkan lama sekali, aku merasa takut untuk mengatakan adieu (selamat tinggal) kepada Levinas.

Ketakutan Derrida untuk mengatakan “Selamat Tinggal” kepada Levinas bukan semata ketakutan untuk ditinggal pergi Levinas. Lebih dari itu, ketakutan yang sudah sejak lama menghantui Derrida adalah ketakutan terhadap suatu peristiwa kebahasaan. Sebuah peristiwa yang mengharuskannya untuk berkata “selamat tinggal” kepada “orang yang sudah tidak ada lagi, tidak hidup lagi, orang yang tidak akan merespons lagi.”

Di hadapan peristiwa itu, suara Derrida akan gemetar. Sekali lagi itu bukan hanya karena efek psikis dirundung duka cita, melainkan juga—dan ini yang paling menyedihkan—karena saat itu seluruh kata-kata, seluruh ungkapan bahasa, akan membentur kekosongan, masuk ke dalam lubang gelap ketiadaan. Jadi, ucapan “Selamat Tinggal” itu untuk Levinas sekaligus juga untuk Yang-Bukan-Levinas.

Kemenduaan itu terjadi karena Levinas sebagai petanda transendental sudah tiada, sehingga ucapan “Selama Tinggal” yang ditujukan kepadanya akan selalu kembali kepada Sang Penuturnya, Derrida, dan juga kita semua, sebagai sebuah imanensi tekstual. Kekhawatiran Derrida, dalam momen ini, tidak hanya kepada perputar-balikan bahasa, tetapi lebih-lebih kepada implikasi dari perputar-balikan itu, yaitu: ketidakmampuan subjek-penutur untuk berbicara secara tulus dan terus-terang kepada orang lain.

Ketidakmungkinan (ber)bahasa meniscayakan sebuah ketidakmungkinan etis. Saat bahasa membentur “ketiadaan” atau—kita juga bisa menyebutnya dalam versi Levinas—sebuah keberlainan total (radical alterity), seketika itu penutur bahasa seolah jadi gentar untuk mengambil tanggung jawab etis kepada orang lain. Padahal, kata Levinas, “kesadaran [dan demikian juga bahasa] adalah urgensi sebuah tujuan untuk mengarah kepada Yang-Lain (the Other), bukan perputar-balikan abadi kepada diri.”

Kematian, pada titik itu, bagi Derrida, menjadi medan pertentangan antara fakta linguistik dengan sebuah tanggung jawab etis. Pertentangan itulah yang akan membuat suara Derrida gemetar. Bukan karena Derrida takut melihat momen pertentangan, melainkan semata karena ia khawatir tidak bisa memenuhi panggilan Yang-Lain untuk bertindak etis.

Dalam kecamuk pertentangan itulah, Derrida, melalui Levinas, menemukan cara lain memahami kematian. Kematian bukanlah pelenyapan, bukan non-ada, bukan juga ketiadaan. Kematian adalah pengalaman orang yang masih hidup (the survivor) menghadapi “ketiadaan-tanggapan” (“without-response”). Itulah yang sebenarnya dialami Derrida saat berceramah tentang/di hadapan kematian Levinas.

Seluruh kata-kata Derrida kepada Levinas yang sudah meninggal itu tidaklah membentur ketiadaan. Karena memahami kematian sebagai ketiadaan, kata Levinas, adalah pemahaman seorang pembunuh yang menghendaki korbannya hilang. Orang yang sudah meninggal tidak menghilang. Ia tetap ada. Hanya saja ia tidak dapat merespons kita.

Atau bisa jadi ia tetap merespons kita, hanya saja dengan cara berbeda, sebagaimana dituturkan Derrida di akhir ceramahnya:

Sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin mengingat kembali apa yang telah dia percayakan kepada kita tentang à-Dieu, tetapi pertama-tama aku ingin mengatakan adieu kepadanya, memanggilnya dengan namanya sendiri, memanggil namanya, nama pertamanya, sesuatu yang dengannya dia dipanggil pada saat dia tidak lagi bisa menjawab, karena sejatinya dia menjawab dalam diri kita, dari kedalaman hati kita, di dalam diri kita tetapi juga di hadapan kita, di dalam diri kita tepat di hadapan kita, mengingatkan kita kembali: à-Dieu.

Kita memang tidak bisa bercakap-cakap dengan kematian. Sebab kematian adalah diri kita sendiri, ada dalam diri kita sendiri. Maka setiap bahasa yang berusaha membicarakan kematian akan selalu berbatas dengan sebuah ketidakmungkinan. Menembus ketidakmungkinan itu berarti masuk ke dalam diri bersama Yang-Lain.

Selamat tinggal, Derrida!