Tiga makian dan satu tamparan lebih berharga

daripada stalking ratusan fotonya di instagram.

 

Sejauh fakta dipahami sebagai fenomena, yakni sesuatu sebagaimana yang kita tangkap dan bukan sesuatu pada dirinya sendiri (noumena), relasi kausal dari Susan Sontag mengenai fotografi gampang diterima. Seperti jejak kaki, kata Sontag, foto bukan hanya gambar, melainkan jejak fakta. Lukisan dapat dibuat tanpa hadirnya objek, tetapi tidak dengan foto.

Bisa saja seorang pelukis menggambar gajah dengan hanya mengimajinasikan sosok gajah, tapi seorang fotografer tidak bisa membuat foto gajah tanpa kehadiran gajah sebagai objek. Antara foto dan fakta, dengan demikian, terdapat suatu relasi kausal yang tak bisa diputus karena foto adalah rekaman visual atas suatu kenyataan faktual.

Kita dapat mendiferensiasi teori ini secara radikal: kebenaran foto mewakili kebenaran fakta. Namun demikian, konsekuensinya amat jauh: keyakinan terhadap rekaman visual berupa kenyataan tiga dimensi yang “diletakkan” oleh kamera ke dalam cetakan dua dimensi menjadi tak terbantahkan: seeing is believing.

Keberadaan Tuhan, misalnya, tidak dapat dipercaya oleh kaum ateis bukan karena argumen akan eksistensi-Nya tidak memuaskan secara logis, tetapi karena Dia tidak terlihat. Orang suku Dani di dataran tinggi Papua akan ragu bahwa wilayah Inggris itu “eksis”, kecuali jika ia melihatnya secara langsung atau dibawakan kepadanya foto yang mampu mewakili faktualitas Inggris.

Pertanyaannya, dalam derajat mana keyakinan subjek menjadi bulat akan eksistensi sebuah objek? Yaitu dalam derajat ketika intensi subjek terhadap objek terjadi seminimal mungkin. Semakin minim intensi subjek terhadap objek akan tidak hanya semakin membuka “kedok” subjektivitas sebuah objek, tetapi juga semakin mempertebal “kebenaran” objek itu sendiri. Jika dirumuskan secara Kantian, seseorang akan menghampiri noumena sebuah fakta jika “lapisan” fenomena fakta itu dibedah semaksimal mungkin. Dan foto, melebihi lukisan dan tulisan, adalah “pisau bedah” atas fenomena dunia faktual.

Seorang pelukis andal mungkin saja membuat lukisan yang serealis objek lukisannya. Seorang penulis hebat mungkin saja menulis hingga mendekati “kebenaran” objek tulisannya. Tetapi, keduanya tak mungkin dapat menghindar dari beban belief yang mereka bawa, sehingga bagaimanapun, objek yang dilukis atau ditulis, dalam taraf tertentu, tetap menanggung beban subjektivitas. Berbeda dengan keduanya, foto tidak memikul beban belief sang fotografer. Itulah mengapa foto memiliki kredibilitas yang tinggi untuk menampilkan kenyataan. Letak keistimewaan foto, kata Andre Bazin, tidak “melibatkan” campur tangan manusia.

Daripada sebagai produk, Kendall L. Walton lebih melihat fotografi pada segi prosesnya karena, sebagaimana Bazin, prosedur mekanislah yang membuat foto lebih istimewa ketimbang produk tangan manusia lainnya dalam menampilkan kenyataan. Sisi realistis foto nyaris sempurna bukan karena campur tangan manusia, melainkan karena kontribusi mekanis kamera. Foto lebih banyak bergantung pada kenyataan daripada belief pembuatnya. Dalam proses fotografis, belief fotografer memang ada (misalnya, mengatur lensa, memilih lokasi, atau memilih pose), namun hanya sebatas pada momen awal sampai tombol shutter ditekan.

Tetapi, benarkah foto sama sekali tak mendistorsi atau mereduksi kenyataan yang ditampilkannya? Di luar konteks pencitraan dan presisi lensa, ada satu kenyataan janggal bahwa rupanya di antara beberapa foto seseorang, hanya ada satu-dua foto saja yang mirip dengan kenyataan aslinya. Bisa jadi foto lebih bagus ketimbang kenyataan aslinya, bisa jadi pula kenyataan asli lebih bagus ketimbang fotonya, atau bisa jadi bahkan foto berbeda jauh dengan kenyataan aslinya. Oleh karenanya, tidaklah heran bila terkadang kita merasa kesulitan untuk mendeteksi seseorang dengan hanya berpedoman pada fotonya.

Hal ihwal demikian menyiratkan bahwa, dalam satu dan banyak hal, relasi kausal antara kenyataan dengan foto—sebagaimana dinyatakan oleh Sontag—ternyata tidaklah kaku. Bahkan, relasi tersebut lebih cair daripada yang kita duga. Ini menunjukkan, sebagaimana lukisan dan tulisan, ada suatu distorsi atau reduksi dalam fotografi.

Bagaimanapun, fakta dua dimensional tidak melulu mampu merepresentasikan fakta tiga dimensional. Sehingga, seeing is believing tidak selamanya bisa menjadi aksioma fotografi. Sebab, foto rupanya adalah suatu hal dan kenyataan adalah hal lain. Keduanya tidak serta-merta dapat sembarangan disatujalurkan. Mesti ada satu distingsi dan analisis yang jelas antar keduanya sedemikian rupa sehingga teori relasi kausal Sontag dapat berlaku.

Lalu, dari mana foto menimba “kebohongan” (distorsi atau reduksi)? Kita bisa mengajukan hipotesis: dari proses fotografis. Momen awal sebelum ditekannya tombol shutter, seperti pengaturan lensa, pemilihan pose, pemilihan lokasi, dan pengambilan angel (sudut shutting) amat berpengaruh terhadap hasil (produk foto). Orang berwajah buruk dapat dipercantik atau diperganteng dengan menaikkan resolusi lensa, pose bisa mencitrakan orang kaku tampak flamboyan, buruk atau baiknya citra suatu objek fotografis kadang bergantung pada tepat tidaknya pemilihan lokasi, dan pengambilan angle yang benar akan membuat orang pendek terlihat tinggi.

Artinya, Bazin dan Walton tidak salah saat mengatakan bahwa belief fotografer hadir hanya pada saat sebelum tombol shutter ditekan, tetapi justru belief itu—bersama-sama dengan kualitas kamera—menyumbangkan banyak “kebohongan” terhadap foto yang dihasilkan. Jika tidak, maka tentu saja, foto dapat menjadi wakil dari kenyataan. Namun, dengan hadirnya kejanggalan-kejanggalan fotografis berupa distorsi dan reduksi, tak terelakkan, kita mesti selalu memandang foto dengan mata curiga. Selama ini kita yakin, untuk mengetahui citra fisik seseorang, tinggal kita lihat beberapa fotonya. Keyakinan macam demikian, rupa-rupanya, tak dapat lagi dipertahankan.