Foto: Cantrik Mockup

Kafe-kafe di Paris dianggap ruang perjumpaan dan pangkal sebaran sastra dunia. Kita bisa menilik artikel berjudul Cafe Paris di majalah Selecta nomor 358 tahun ke-10, 29 Juli 1968. Dalam artikel itu tertulis bahwa kafe-kafe di Paris telah menjadi “tempat seniman2 menulis syair dan novel mereka. Di situlah tempat berdiskusi tentang literatur, filsafat dan politik.” Ilustrasi lebih luwes pun tertampilkan melalui sekian film, salah satunya Midnight in Paris (2011) yang ditulis dan disutradarai Woody Allen sekaligus. Film mengisahkan perjumpaan imajiner antara Gil Pender, penulis pemula, dengan para penulis kondang di masa lalu seperti Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, T.S. Elliot, dan lain-lain. Perjumpaan itu selalu terjadi di kafe-kafe Paris, pada tengah malam seusai dentang lonceng.

Peristiwa berkafe di Paris yang berkelindan dengan kesejarahan sastra dunia itu pun dijadikan latar dalam cerpen Roberto Bolano, Rahasia Kejahatan. “Paling sering ia mengunjungi tempat-tempat di Montparnasse dengan nuansa legenda yang meragukan berkenaan dengan tempat-tempat tersebut: tempat di mana Scott Fitzgerald pernah bersantap makan, tempat di mana Joyce dan Beckett minum wiski Irlandia, bar yang disukai oleh Hemingway dan Dos Passos, Truman Capote dan Tennessee Williams,” tulis Bolano. Majalah dan film memercayai legenda yang bersemayam di kafe-kafe di Paris. Namun, Bolano justru sinis pada “legenda yang meragukan” tersebut. Kafe adalah kafe, dengan atau tanpa dikunjungi sastrawan kondang nan ampuh.

Rahasia Kejahatan adalah satu dari tiga belas cerpen yang terhimpun dalam buku Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan (2017). Cerpen-cerpen di buku ini dipilih serta diterjemahkan dari dua kumpulan cerpen Bolano, Last Evenings on Earth (1997) dan The Secret of Evil (2007). Kedua buku yang dijadikan sumber itu terbentang masa sepuluh tahun. Buku The Secret of Evil bahkan baru beredar tiga tahun setelah kematian Bolano. Kedua buku mewakili buku kumpulan cerpen Bolano di masa-masa awal dan akhir. Kurator cerpen untuk edisi berbahasa Indonesia menilai Last Evenings on Earth (1997) dan The Secret of Evil (2007), alias buku kumpulan cerpen pertama dan terakhir Bolano, sudah cukup merepresentasikan bentang petualangan kesusastraannya.

Cerpen Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan, yang judulnya dipilih buat menjuduli buku kumpulan cerpen itu, hadir di urutan kedua setelah Rahasia Kejahatan. Cerpen termaksud rasa-rasanya belum mungkin dibaca secara paripurna kecuali jika kita sudah terbekali cukup pengetahuan ihwal sastra Amerika Latin. Nama-nama sastrawan Amerika Latin, yang bukan sekadar Jorge Luis Borges, bergentayang di sekujur cerpen. Narasi Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan terasa ganjil untuk disebut cerpen. Jika kita mengadakan penelusuran lebih jauh, rupanya Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan adalah esai. Dalam The Secret of Evil, Vagaries of the Literature of Doom (judul asli Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan) memang disebut sebagai esai. Keganjilan telah terpecahkan.

Dalam esai berjubah cerpen itu, Bolano menulis, “sastra adalah mesin lapis baja. Mesin ini tidak peduli dengan para penulis. Bahkan kadang mesin ini tidak menyadari bahwa penulis itu eksis. Musuh kesusastraan adalah sesuatu yang lain.” Sastra, seturut Bolano, adalah mesin yang tidak menyadari eksistensi penulis. Kita mengenal “penulis telah mati” yang didakwahkan kaum strukturalis. Sastra ditopang oleh teks, dan selama seorang penulis tidak menghasilkan teks, ada-tiadanya tak berarti, tak tersadari. Sastra mungkin tak menyadari penulis itu eksis. Namun, eksistensi penulis tetap tersadari oleh sesamanya, sesama buruh kata-kata. Kesadaran, dan persaingan, itu Bolano bahas dalam cerpen Petualangan Kesusastraan.

“B menulis sebuah buku di mana dia mengolok-olok beberapa penulis tertentu, dengan berbagai cara yang tersamarkan, atau, lebih tepatnya, beberapa tipe penulis tertentu,” begitu Bolano membuka cerpennya. Bolano lalu menyebut dua tipe penulis, “A terkenal, kaya raya, dan punya pembaca luas, dengan kata lain dia telah mencapai tiga tujuan tertinggi (dalam hal itu) yang dicita-citakan oleh seorang sastrawan. B tidak terkenal, dia tidak punya uang, dan puisinya diterbitkan di majalah-majalah kecil.” Kita lantas teringat pada dualisme dalam kiprah kepenulisan, antara penulis koran/majalah dan penulis buku serta antara penulis pasar dengan penulis ideal, katakanlah. Kita jadi tahu bahwa musuh sastra memang sesuatu yang lain. Sesuatu yang bukan sastra namun dijadikan ukuran bagi sastra.

Selain yang tersebut, masih ada beberapa cerpen bertematik sastra dan sekitarnya. Jika Arief Budiman pernah menulis Esai tentang Esai (Horison nomor I tahun ke-1, Juli 1966), maka Bolano menulis sastra tentang sastra melalui buku Lelucon-Lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan. Tematik sudah beres. Namun, kita masih menemukan keganjilan lain dalam cerpen-cerpen Bolano. Cerpen-cerpen di buku itu hampir tak berdialog, atau berkecenderungan menyamarkan dialog. Kita bisa menengarainya dari tanda petik yang minim. Kalimat yang mirip dialog pun ditulis tanpa tanda petik. Misal, adegan penutup cerpen Petualangan Kesusastraan berikut, “Bisakah aku menuntaskan semua ini tanpa kekerasan atau melodrama, pikirnya. Akhirnya, ujar A. Bagaimana kabarmu? Baik, ujar B.” Keganjilan itu mudah dan sering hadir. Keganjilan tak menunggu sastra kiamat.

  • Tulisan ini pernah terbit sebelumnya sebagai resensi buku di koran Padang Ekspres, 31 Desember 2017.