Foto: Cantrik Mockup

Yang berdiam di sekitar kalian, kelak akan berdiam di dalam diri kalian. Darinya berkembang kebiasaan. Yang menjauhkanmu dari keluarbiasaan yang diberikan alam padamu. Demikiankah litani Nietzschean tentang manusia kerumunan (2017: 101).

Berbicara manusia kerumunan atau kumpulan manusia dan sebagainya bersifat tidak teratur dan sementara. Konsep manusia sebagai makhluk sosial, konsep manusia sebagai makhluk budaya, atau term yang dikumandangkan Ernst Cassire perihal manusia sebagai makhluk yang terjerat dalam jejaring penanda yang ditenunnya sendiri. Tak lepas berkenaan dengan konsep manusia sebagai makhluk individu.

Terkait bagaimana individu tersebut berkembang, bertahan, atau tergeser oleh indivudu lainnya adalah suatu ihwal sederhana yang menolak untuk berhenti membuka ruang penyederhanaan baru. Antara tema komunikasi yang mendahului kecerdasan atau tema kecerdasan yang mendasari terciptanya pola komunikasi.

Seperti lewat litannya, Nietzsche mengejek sinis bahwa orang-orang kerumunan diperlukan agar orang-orang besar bisa menginjak kepala mereka dan muncul melampaui mediokritas dari kerumunan tersebut. Sarkasme Nietzsche adalah kritik tajam bagi manusia yang tak mampu menemukan kebesaran dirinya untuk melampaui rata-rata, atau menjadi Yang-Lain.

Buku Kecerdasan Semiotik: Melampaui Dialektika dan Fenomena, adalah pengembangan dari penelitian Kecerdasan Semiotik yang dilakukan oleh tim yang diketuai oleh  Dr. Yasraf Amir Piliang. Penelitian yang diljalani kurang-lebih selama 2,5 ini berawal dari ide Audifax, yang diajukan saat perbincangan dalam rapat Yasraf Amir Piliang Institute pada tahun 2009 silam. Buku terbitan Aurora—Cantrik Pustaka, April 2017 ini dibuka dengan prolog Fenomena Kecerdasan dan ditutup Posdialektik dan Epifenomena sebagai epilog. Buku  dengan tebal 492 halaman terdiri dari 48 subbab dan terbagi kedalam 4 bagian; Rerata Kultur (Cultural Quotien), Keliyanan (Otherness), Kecerdasan Semiotik (Semiotic Intelligence), dan Skema Triadik: Rerata Kultural-Kecerdasan Semiotik-Keliyanan.

Dalam prolog Fenomena Kecerdasan Yasraf & Audifax mengawali dengan  menyampaikan bahwa kecerdasan sesungguhnya tak lepas dari kemampuan individu membaca berbagai tanda di kehidupan dan menjadikannya pengetahuan. Mereka yang cerdas menggunakan pengetahuan bagi kelangsungan dan perkembangan hidupnya. Kapasitas manusia bertahan di kehidupannya, erat dengan kapasitasnya membaca tanda dan menjadikannya sebagai pengetahuan. Barangkali, itulah mengapa perintah bagi manusia adalah: bacalah!

Manusia pada dasarnya terjerat dalam sistem penandaan yang mensyaratkan kemampuan “membaca dan mengolah tanda” dalam struktur yang melingkunginya, sekaligus keterbukaan terhadap “kemungkinan adanya sesuatu yang ada tapi tak mampu dicerna dalam struktur tanda yang telah menjadi common-sense”. Membaca dan mengolah tanda adalah hal yang membentuk konsep kecerdasan. Bangunan asumsi itulah yang menjadi dasar dari semiotic intelegence (2017:138).

Kecerdasan selalu menjadi tema yang tidak bisa lepas dari keberadaan manusia. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan? Bagaimana kecerdasan bekerja? Bagaimana manusia menanggapinya, membuat pengertian tentang kecerdasan, dan membaginya ke dalam beberapa acuan kecerdasan.

Kita bisa menemukan beberapa acuan dan pengertian akan kecerdasan. Mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdasan spritual, kecerdasan emosional, kecerdasan linguistik, kecerdasan visual, kecerdasan matematik, kecerdasan musikal, kecerdasan sosial, kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan naturalis, dst.

Begitu banyak acuan tentang kecerdasan. Masing-masing acuan memiliki area pembahasan, asumsi dasar, serta paradigma berbeda dalam memandang dan menjelaskan kecerdasan.

Seperti halnya dalam bukunya, Yasraf & Audifax sedikit menyoal tentang salah satu teori yakni teori multiple intelligence. Ada Howard Gardner, Thomas Amstrong, David Lazaer sebagai tokoh dari teori multiple intelligence yang memegang asumsi bahwa kecerdasan bukan persoalan kontinum cerdas atau tidak cerdas, melainkan pola sejumlah komponen kecerdasan yang ada pada seseorang.

Dalam perkembangannya, ditemukan komponen kecerdasan yang bersifat inheren dan yang bersifat bentukan lingkungan. Multiple intelligence berasumsi bahwa kecerdasan bersifat multifaset dan setiap orang memiliki komponen-komponen kecerdasan sama, tetapi dengan derajat kedalaman yang berbeda.

Setiap orang memiliki komponen-komponen kecerdasan yang sama, itulah mengapa lewat litaninya Nietzsche mengkritik tajam orang yang tak mampu menemukan kebesaran (keluasan) dirinya untuk melampaui mediokritas—manusia rerata.

“Tema Kecerdasan dan Mediokritas” adalah semacam pilihan dari elipsis yang bisa penulis gambarkan perihal menanggapi beberapa fenomena yang terjadi sekarang, dan manusia kerumunan yang berada di dalamnya. Yasraf & Audifax memberi penegasan bahwa semua kecerdasan pada dasarnya adalah kecerdasan memahami dan mengolah tanda, atau dengan kata lain kecerdasan semiotik.

Ernst Cassire menyebut manusia sebagai animal symbolicum, atau binatang yang menghidupi dan dihidupi simbol. Dunia manusia adalah dunia yang diciptakan melalui bentuk-bentuk simbolik dari pemikiran manusia. Semuanya dibagi dan dikembangkan lebih jauh oleh manusia.

Manusia sebagai makhluk yang terjerat dalam jejaring penanda yang ditenunnya sendiri. Sehari-hari kita dikepung banyak tanda. Informasi yang kita dapatkan setiap hari jauh lebih banyak daripada informasi yang mampu kita olah kedalamannya dengan baik.

Menurut pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut sebagai tanda. Karena itu tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa maupun tidak adanya peristiwa, suatu kebiasaan, suatu isyarat, sebuah kata, keheningan, sebuah gejala dan lainnya yang dibangun manusia dalam menciptakan komunikasi selalu memunyai potensi buat menjadi tanda.

Kecerdasan Semiotik: Melampaui Dialektika dan Fenomena adalah termasuk dalam daftar buku wajib bagi para pembaca yang selalu gelisah serta hobi dalam mencermati hubungan tanda, baik hubungan yang bersifat simbolik, paradikmatik, atau hubungan sintagmatik.

Sedangkan bagi pembaca yang belum dan atau baru memulai untuk mempelajari suatu disiplin dalam memeperhatikan tanda-tanda, fungsi tanda dan gejala makna (semiotika), buku ini akan terasa sedikit berat. Akan tetapi di dalam buku Kecerdasan Semiotik kita akan menemukan banyak contoh kasus menarik di setiap subbahasan.

Kemampuan manusia untuk survive dalam kehidupannya, adalah kapabilitasnya untuk membaca tanda-tanda dan menentukan arah takdir-nya, Yasraf dan Audifax kembali mengingatkan hal tersebut di dalam epilog. Setiap individu yang mampu melampaui rerata kultural adalah mereka yang cerdas mengembangkan kemampuan membaca tanda dalam hidupnya. Survival of the fittest adalah soal kecerdasan semiotik.

Spektrum kecerdasan semiotika membuka ruang seluas-luasnya bagi individu yang bergerak dalam rerata kultural untuk menemukan kemungkinan baru, yaitu segala kemungkinan tanda dan kode-kode baru yang disediakan bahasa—di sinilah bisa dipahami bahwa dalam teks yang retak dan memberi tempat munculnya Otherness, maka di situ pulalah hidup makhluk yang bernama Kemungkinan.

Perluasan dari keterbatasan manusia dengan menyadari bahwa dirinya sebagai sign yang selalu bisa di-designs adalah Otherness—jalan menggeledah kebenaran melalui rumusan-rumusan kontemplatif tentang “Ada”.  Hidup adalah menjelajahi kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam bahasa.

  • Tulisan ini pernah terbit sebelumnya sebagai resensi buku di koran Radar Cirebon, 20 Januari 2018.