Buku ini adalah tentang apa yang disebut di sini sebagai ontoantropologi, yaitu pandangan ontologis yang meletakkan manusia sebagai jangkar dari keberadaan segala sesuatunya. Apabila dalam tradisi metafisika dikenal dengan ontoteologi, yang mana Tuhan ditempatkan sebagai jangkar ontologis segala sesuatunya, di dalam filsafat kontemporer kita melihat korelat-korelat kemanusiaan yang menjadi jangkar ontologis ini. Mulai dari ide, rasio, kehendak, kuasa, bahasa, dst., semuanya berkompetisi mengisi kekosongan pasca-Tuhan dikumandangkan kematiannya oleh Nietzsche.

Sayangnya, Tuhan tidaklah benar-benar mati, ia menjelma dan merasuk dalam rupa-rupa yang baru dalam filsafat, yaitu dalam rupa manusia. Alhasil, kita bisa menduga, korelat-korelat manusia tadi tidak lain adalah jejak-jejak sekuler Tuhan dalam filsafat. Adalah Quentin Meillassoux [baca: kwang-tang meiy-yas-suh] yang mencoba, dan berhasil, menunjukkan betapa filsafat kontemporer, sekalipun menggadang-gadang tentang perbedaan (dalam segala bentuk dan manifestasi konseptualnya) sebenarnya tetap mengulangi satu kesamaan, yaitu peneguhan korelat manusia sebagai jangkar keberadaan ontologis.

Buku ini mencoba memberikan refleksi kritis akan proyek filsafat Meillassoux. Setelah memberikan kritik terhadap filsafat-filsafat perbedaan ini, yang disebutnya korelasionisme (yang lebih spesifiknya lagi mengacu pada fenomenologi, analitik, dan pascamodernisme), Meillassoux mencoba untuk kembali menjajal kemampuan filsafat untuk menaja problem ontologis, yaitu mengklaim kebenaran absolut. Tentunya kali ini adalah kebenaran absolut yang nirmetafisik, nirabsolutis, dan nirontoantropologis.

Sayangnya buku ini menunjukkan keterbatasan dari upaya Meillassoux tersebut. Namun demikian, komitmen Meillassoux melalui proyek realisme spekulatifnya adalah sesuatu yang tetap dipertahankan di sini, sekalipun cara mengeksekusi proyek tersebut sepenuhnya dipertanyakan. Proyek meretas jalan menuju rasionalitas yang absolut, menurut penulis, adalah apa yang kita butuhkan saat ini dalam mengonfrontir rupa-rupa irasionalitas dalam berbagai jelmaannya: fundamentalisme religius, irasionalitas pasar, brutalitas kekuasaan negara, krisis lingkungan, dst. Tidak pernah proyek filsafat dalam menggapai yang absolut menjadi serelevan sekarang ini. Tidak pernah tuntutan agar filsafat membumi menjadi semendesak sekarang ini.

Namun demikian, proyek ontologis bukanlah sesuatu yang mengawang-awang. Setinggi dan seabstrak apa pun filsafat bergerak menuju awan-awan untuk mencari yang absolut, disertasi ini hendak menunjukkan bahwa ia, yang absolut, tidak ada di atas sana. Yang absolut telah selalu ada di sini, sekarang, hadir bersama kita. Tugas filsafat adalah membongkar tabir yang selamanya menghalangi kita untuk melihat presentasi murni dari yang absolut. Tabir itu, tak lain, dan ironisnya, adalah kemanusiaan itu sendiri.

Buku ini adalah buah pemikiran, yaitu korelat, dari penulis selama setidaknya tujuh tahun. Tentunya dalam waktu yang sepanjang itu (yang sebenarnya tidak terlalu panjang), penulis berjumpa dengan orang-orang yang turut andil secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pengembangan ide-ide yang termaktub di sini. Setidaknya ada beberapa oknum yang harus penulis akui sebagai pemantik, sumber inspirasi, dan juga sekaligus, tentu saja, lawan dialektis penulis.

Martin Suryajaya adalah orang yang terhadap pemikirannya penulis bereaksi keras. Kegigihan dan keketatannya dalam berfilsafat dan dalam upaya merengkuh yang absolut adalah inspirasi awal penulis untuk juga menjajaki proyek serupa, walaupun dengan lintasan yang bisa jadi berbeda. Disertasi ini adalah penjabaran megaekstensif dari respon penulis atas buku Martin, Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, yang diterbitkan oleh IndoProgress dalam dua seri tahun 2012 silam. Ulasan kritis (dan konfrontasional) akan buku tersebut adalah kali pertama ide yang ada di sini dipresentasikan ke publik. Muhammad Ridha dan Muhammad Al-Fayyadl juga turut mengintervensi perdebatan, dan pada gilirannya turut menjadi rekan dialog penulis dalam mempertajam argumen-argumen di sini.

Inspirasi kedua adalah dari Muhammad Al-Fayyadl, terutama artikelnya tentang “Bunuh Diri Kelas”—yaitu cara (Derridean) bagi kelas menengah untuk bisa menjadi revolusioner. Lainnya adalah kesempatan penulis untuk menjadi pembahas buku Tony Rudyansjah, yang juga adalah ko-promotor penulis, yang berjudul Alam, Kebudayaan dan Yang Ilahi. Melalui tulisan Al-Fayyadl, penulis disadarkan mengenai keterinklusian kita dalam sistem yang hendak kita lawan, dan bagaimana pengabaian terhadap kenyataan tersebut justru menjadi bumerang. Pembatalan terhadap keterinklusian tersebut adalah hal yang penulis petik dari tulisan Al-Fayyadl.

Lalu pada buku Rudyansjah, penulis untuk pertama kalinya ditunjukkan mengenai sejarah sebuah disiplin tentang manusia, yaitu antropologi, yang pada perkembangan mutakhirnya justru sampai pada pembatalan akan kemanusiaan itu sendiri. (Pembacaan ini, sayangnya, tidak begitu disambut oleh sang penulis). Imam Ardhianto dan Geger Riyanto turut memandu penulis menelusuri pemikiran-pemikiran antropologi pascasosial dan nirmanusia (Strathern, Ingold, de Castro, Descola, dst.), dan semakin meyakinkan penulis mengenai gagasan pembatalan manusia ini. Sayangnya, di buku ini kekayaan pendekatan antropologi ini belum banyak tertuang karena keterbatasan penulis. Namun demikian, ide mengenai pembatalan-diri ini berperan sentral dalam mendeskripsikan posisi penulis terkait, tidak hanya realisme spekulatif Meillassoux, melainkan keseluruhan upaya manusia dalam menggapai yang absolut.

Inspirasi ketiga adalah saat penulis dan beberapa kawan mendapat kesempatan untuk mendirikan suatu organisasi eksperimental, yaitu Koperasi Riset Purusha. Aspirasi saintifik, eksperimental dan transformatif, ditambah dengan pemikiran-pemikiran yang berasal dari simpulan penelitian di lapangan, adalah apa-apa yang memotivasi kami untuk mendirikan Koperasi tersebut. Althusser terkenal akan kutipannya dari Lenin bahwa tidak ada praktik revolusioner tanpa teori revolusioner.

Penulis berpendapat sebaliknya, praktik-praktik revolusioner adalah laboratorium untuk kita mengeksperimentasikan pemikiran, teori dan filsafat revolusioner. Bagi penulis sendiri, Koperasi ini adalah laboratorium tersebut. Ia terbentuk karena, salah satu sumbangsih kecilnya, pemikiran-pemikiran penulis yang dalam versi filosofisnya tertuang di disertasi ini.

Tidak hanya itu, melalui Koperasi tersebut, dan juga kemudian pada serikat pekerja eksperimental Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI), dan dengan kamerad yang penulis temui di sana, penulis mengembangkan ide-ide dalam disertasi ini. Penulis tidak bisa menyebut keseluruhan anggotanya di sini, namun beberapa nama yang memiliki pengaruh signifikan pada ide di disertasi ini perlu penulis sampaikan: Dodi Mantra dan Lawrensia Hanny Wijaya adalah dua orang yang darinya penulis belajar banyak tentang makna dari ‘eksperimentasi revolusioner’, yang dalam disertasi ini mendarat dalam ide mengenai eksperimentasi filosofis dalam memikirkan yang absolut.

Pula melalui Koperasi Riset Purusha ini penulis mencoba menginisiasi klinik koperatif, Minerva Co-Lab: Hypnotherapy, Psychoanalysis and Collective Psyche, dalam rangka menjajal eksperimentasi psike kolektif setelah mendapat lisensi praktisi psiko/hipnoterapi dari The Indonesian Board of Hypnotherapy. Dalam praktik-praktik di sini, ide ketiadaan dan keterstrukturan ‘manusia’ oleh ketaksadaran yang penulis tuangkan di buku ini mendapatkan konfirmasi-konfirmasi empiriknya. Bahkan tidak jarang pengalaman-pengalaman klinis ini memberikan inspirasi dan pemahaman baru bagi konsep-konsep ontologis Lacanian di disertasi ini. Terima kasih juga untuk Mr. AX yang sudah boleh penulis pakai kasus klinisnya di buku ini untuk mengilustrasikan teori Lacan.

Buku ini adalah pengembangan dari disertasi doktoral penulis di Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Karenanya, ia tidak akan bisa ada tanpa bimbingan, masukan, arahan, fasilitasi dan wanti-wanti dari para dosen. Prof. Dr. Soerjanto Poespowardojo telah dengan sangat sabar membantu dan memberi arahan dalam pengerjaan disertasi ini, tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai promotor, melainkan juga sebagai guru dan senior. Dr. Tony Rudyansjah dan Dr. Donny Gahral Adian juga memberikan arahan yang berguna dalam mengembangkan argumen penulis di disertasi ini. Dr. Robertus Robet dan Dr. Budiarto Danujaya, sebagai penguji, telah membantu menunjukkan celah-celah argumentasi penulis. Prof. Dr. Riris Toha Sarumpaet juga tidak kalah membantunya bagi penulis dalam memperbaiki poin-poin penyajian argumen penulis. Dr. Akhyar Lubis juga turut membantu penulis untuk mengklarifikasi poin-poin di disertasi ini. Almarhum Dr. Vincentius Jolasa juga turut memberi semangat penulis untuk menyelesaikan disertasi ini.

Jakarta, November 2016