Buku ini menawarkan pendekatan baru dalam membaca dan mengajarkan puisi di tengah krisis planet dan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Buku ini menempatkan puisi tidak hanya sebagai karya estetis, tetapi sebagai ruang etis, politis, dan ekologis untuk memahami pengalaman manusia, ketimpangan sosial, serta relasi kuasa yang membentuk bahasa dan pengetahuan.
Berpijak pada pedagogi kritis, ekofeminisme, dan pemikiran dekolonial, buku ini mengajak mahasiswa untuk mengapresiasi puisi dengan kepekaan terhadap keadilan gender, krisis ekologis, disabilitas, dan pengetahuan masyarakat adat. Kehadiran AI dalam praktik sastra dibahas secara reflektif—bukan semata sebagai alat kreatif, tetapi sebagai teknologi yang sarat bias, relasi kuasa global, dan konsekuensi ekologis. Disusun secara modular dan berbasis project-based learning, buku ajar ini mengintegrasikan teori sastra, analisis puisi, praktik kelas, serta pemanfaatan media visual dan digital secara etis. Selain itu, untuk memperkaya di bidang akademik, setiap bab khusus dilengkapi dengan tujuan pembelajaran, aktivitas, penilaian, dan rubrik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan capaian akademik. Dirancang untuk mahasiswa pendidikan, sastra, dan umum, buku ini merupakan ajakan untuk membaca puisi sekaligus membaca dunia—dengan imajinasi kritis, empati ekologis, dan keberanian dekolonial—serta menjadikan pembelajaran sastra sebagai praktik keadilan dan keberlanjutan.
