1965 bukan hanya soal darah, kudeta, dan perebutan kuasa. Bagi ribuan perempuan, tragedi itu meninggalkan stigma yang diwariskan lintas generasi: dituduh pelacur, dicap ateis, dan diseret dalam narasi negara yang meniadakan martabat mereka. Namun di balik luka, ada perlawanan.
Para penyintas perempuan menemukan ruang untuk bersaksi, menjaga iman, dan membangun solidaritas. Dari ruang-ruang kecil, organisasi akar rumput, hingga doa yang terucap lirih, mereka menantang narasi resmi Orde Baru.
Buku ini menyingkap bagaimana politik ingatan bekerja melalui tubuh dan suara perempuan. Ia mengurai keterhubungan antara gender, agama, stigma, dan perlawanan, sekaligus menghadirkan kisah-kisah keberanian yang selama ini ditekan. Saksi, Stigma, Solidaritas bukan sekadar kajian akademis, tetapi juga undangan bagi kita untuk mendengar, memahami, dan meneguhkan martabat perempuan yang pernah dikubur dalam diam.
