Ulasan Buku

Metafora Ibu Bumi dalam Perspektif Ekofeminisme

Simbiosis mutualisme adalah gambaran keterkaitan antara bumi dan manusia yang seharusnya dijaga dan dilestarikan. Keduanya saling membutuhkan dan saling menguntungkan.

Manusia menjaga dan merawat bumi, sedangkan bumi memberikan kebutuhan pokok manusia berupa sandang, pangan dan papan. Potensi memberi tanpa mengharap balasan adalah pengejawantahan dari sosok ibu, yaitu rela berkorban nyawa demi melahirkan buah hati, merawat dan membesarkannya. Karena itulah lahir istilah Ibu Bumi.  

Metafora Ibu Bumi dipandang baik ketika memunculkan kesadaran bahwa bumi telah memberikan banyak hal kepada manusia dengan ikhlas. Dalam beberapa daerah, ada tradisi yang semakin menguatkan statement mengenai persamaan antara bumi dan perempuan.

Salah satunya, hasil riset penulis di Desa Wologai Tengah Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende, terdapat pemandangan unik pada rumah adatnya. Bagi masyarakat Wologai, rumah adalah Rahim seorang ibu, yang membuat penghuninya merasakan hangat dan terlindungi. Di setiap kanan kiri pintu utama terdapat lambang sepasang payudara perempuan.  

Setiap tahun masyarakat Wologai melakukan ritual syukur panen raya yang ditujukan pada bumi. Itu merupakan bentuk penghormatan manusia pada Ibu Bumi yang masih dilestarikan.

Selain itu, ada banyak mitos Ibu Bumi yang berkembang di berbagai belahan dunia, seperti Dewi Sri di Indonesia, Dewi Isis di Mesir, Demeter di Yunani, dan Selu di Amerika Serikat.

Kedekatan alam dan perempuan juga dilihat dari aktivitas pertanian yang mayoritas dilakukan oleh kaum hawa. Bercocok tanam merupakan mata pencaharian utama karena berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan pangan manusia.

Di samping itu, juga sebagai upaya menjaga (tidak merusak) tanah dan lingkungan. Karena, bagaimanapun baik dan besarnya kasih sayang Ibu Bumi, tetap memiliki dua sisi yang berseberangan, yaitu sisi baik yang ditunjukkan dengan kelembutan, keikhlasan, kepedulian dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Membongkar Kedok dan Dominasi Sekolah

Ada pula sisi buruk yang ditampakkan dengan kemarahan dan kemurkaan, seperti longsor, gempa, tsunami dan lain-lain.

Namun, sifat buruk Ibu Bumi terjadi biasanya sebagai dampak dari perilaku manusia itu sendiri yang kurang menghargai keberadaan alam dan seluruh isinya.

Misalnya, melakukan penebangan hutan secara liar, buang sampah sembarangan, persoalan pertambangan yang semakin merusak kekayaan alam dan masih banyak lagi yang lainnya. Kerusakan alam menjadi salah satu problematika kebangsaan yang sampai saat ini masih kurang mendapat sentuhan kebijakan dari pemerintah.

Dalam perspektif ekofeminisme, bumi identik dengan perempuan yang dianggap sebagai objek yang lemah. Ketertindasan alam akibat dominasi manusia merupakan pokok persoalan yang semakin meningkat dari masa ke masa. Karena secara kultural ada keterkaitan antara perempuan dan alam yang dipahami memiliki relasi simbolik, konseptual dan bahasa antara feminisme dan isu-isu ekologis. 

Istilah ekofeminisme dikemukakan pertama kali oleh Francoise d’Eaubonne dalam artikelnya yang berjudul Le feminisme ou la mort pada tahun 1974. Artikel tersebut berisi tentang penindasan terhadap perempuan dan alam.

Jejak-jejak ekofeminisme dapat dipahami dari beberapa aliran, yaitu ekofeminisme liberal, radikal, spiritual, pembebasan hewan dan transformatif.

Feminisasi alam atau yang diistilahkan dengan Ibu Bumi banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh terdahulu mulai dari Platon hingga Jean-Jacques Rousseau. Namun, Aurora Ponda dalam buku tersebut lebih menekankan pada kritik Greta Gaard terhadap feminisasi alam.

Dalam pandangan Gaard, tidak akan ada usaha yang berhasil untuk membebaskan perempuan tanpa juga berusaha membebaskan alam. Inilah yang menjadi perjuangan Gaard sebagai ekofeminis dengan melakukan beberapa gerakan, seperti anti nuklir, kepedulian terhadap kesehatan perempuan, gerakan buruh, gerakan pembebasan hewan serta gerakan GLBT.

Baca Juga:  Membumikan Filsafat Ontoantropologi

Menurut Gaard alam itu tidak bergender sebagaimana yang sering disamakan dengan sosok perempuan dalam konteks budaya patriarki. Alam harus tunduk pada kehendak manusia, sebagaimana perempuan harus tinduk pada kehendak laki-laki.

Anggapan itu sama halnya dengan melakukan seksualitas alam atau mengelaminkan alam. Sehingga diperlukan sikap tegas untuk menempatkan alam bukan pada gender maskulin ataupun feminim.  Karena hal itu berdampak pada metafora “Ibu Bumi” dan dipandang sebagai sesuatu yang erotis.

Buku mungil tersebut merupakan tindak lanjut dari tesis penulis yang berjudul Budaya Pertanian Melahirkan Feminisasi Alam (Kajian tentang Pemikiran Greta Gaard mengenai Feminisasi Alam.

Menurut saya, penulis telah memperkenalkan asal-usul ekofeminisme yang sarat muatannya dengan aspek historis. Setiap wilayah maupun negara memiliki cara tersendiri dalam menghormati bumi sebagai sumber penghidupan.

Namun pada perkembangan selanjutnya, di Indian (Amerika Serikat) dan Sunda (Indonesia) alam mengalami ketertindasan, karena masyarakat tidak kuasa menolak praktik kapitalisme yang masuk dalam wilayah mereka. Sedangkan masyarakat Eropa merendahkan alam, karena mereka pelaku kapitalisme yang menghancurkan alam itu sendiri.

Sedikit catatan, buku itu terdiri dari tujuh bab. Pada bab tiga, lima, enam dan tujuh penulis memberikan rangkuman pada setiap akhir babnya. Namun tidak pada sisa bab yang lain.

Selain untuk menjaga konsistensi sistematika penulisan, rangkuman juga berfungsi sebagai penguat daya ingat pembaca serta memperjelas poin penting dalam bab tersebut.

  • Tulisan ini pernah terbit sebelumnya di koran Radar Madura 20 Juni 2021