Ulasan Buku

Renungan Lokal untuk Isu Global

Di tengah isu perubahan iklim memanas beberapa tahun ini, M Faizi mempertanyakan cara makan kita yang berpengaruh terhadap kondisi bumi lewat buku kumpulan esai berjudul seram, Merusak Bumi dari Meja Makan (2020).

Makan bukan hal sesederhana mengunyah dan menelan. Terbukti, buku ini mendapat pengantar agar resmi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang mafhum ”tentang hakikat makan sebagai pemasok nutrisi jasmani manusia yang harus direlasikan dengan pola konsumsi yang dapat merusak bumi sekaligus mengingat pembaca akan ajaran agama tentang larangan tindakan mubazir, pola hidup sederhana, anjuran sedekah, menjaga kesehatan, dan mer[1]awat lingkungan”.

Makan menentukan cara dan sikap hidup. Di pelbagai peradaban, kita melihat petuah senada dan mirip. Hal itu antara lain yang dihimpun dalam buku sederhana tetapi menarik berjudul Food Rules, Pedoman bagi Para Penyantap Makanan (2009) garapan Michael Pollan.

Salah satu cara jelas anjuran berhenti makan sebelum kenyang. Orang Islam menyakini petuah datang dari Nabi Muhammad yang menggambarkan perut kenyang berisi sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Ada ungkapan Jerman mengatakan, ”Anda perlu mengikat karung sebelum benar-benar penuh.”

Orang Prancis mengatakan ”Saya sudah tidak lapar lagi” bukan ”Saya sudah kenyang.” Makan terutama bukan demi tujuan puas dan kenyang, tapi upaya mengenali tubuh yang berarti mengenali hasrat diri. Meski tampak sebagai petuah masa lalu, tetapi sangat relevan dengan cara makan hari ini yang makin menjauh dari naluri mengenali tubuh.

Esai-esai Faizi kentara membawa perubahan cara makan dan memperlakukan makanan. Dulu, makanan dipersepsikan secara religius bertaut dengan ciri kultural, sebaran geografis, adab akulturasi.

Makanan masih dihasilkan dan diolah dengan keringat skala rumah tangga atau desa, belum skala industri (pabrik). Petuah bijak dari orang-orang lawas bahwa makanan melakukan perjalanan berliku melibatkan segala unsur alam dan keringan petani harus dipegang betul.

Makanan tidak boleh diperlakukan sembarangan. Di esai ”Merusak Bumi dari Meja Makan”, perlakuan adab menghormati makanan mulai tergerus tampak dari sisa makanan. Saat dunia hari ini masih memerangi bencana kelaparan, Indonesia justru masuk dalam jajaran negara pembuang makanan.

Baca Juga:  Menjadi Orangtua, Siapa Takut

Faizi mengajak pembaca membayangkan, ”Jika kita makan sop dan ternyata hanya diseruput beberapa sendok saja, maka ke manakah nasib sisa potongan kentang dalam sop yang terbuang itu — yang mungkin melakukan perjalanan jauh dari Wonosobo, atau dari Bandung, atau Pasuruan-akan berakhir? Tempat sampah.

Kita tahu pasti sayuran itu membutuhkan air yang banyak untuk disiram saat masih ditanam, butuh BBM saat diangkut, butuh banyak plastik saat dikemas dan dibungkus, menyerap minyak saat digoreng.”

Aduh, berapa banyak orang yang berpikir semenjelimet itu untuk sepotong kentang atau wortel dalam kuah sop!

Barangkali karena di Indonesia sisa masih ”hanya” dianggap sisa, bagi ”dunia” sisa adalah petaka. Faizi merujuk pada tulisan Elizabeth Royte di National Geographic Indonesia, Maret 2016, edisi ”Jangan Buang Makananmu”. Jika dikumpulkan, sisa makanan dunia menjadi gas rumah kaca terbesar ketiga setelah Tiongkok dan Amerika.

Faizi tidak menyebutkan ada hasil pangan terbuang bahkan sebelum menjadi ”sisa”. Negara-negara pertanian di benua Amerika, terutama yang sangat menentukan arus industrialisasi makanan, harus membuang bahan pangan seperti buah atau sayur cacat karena tidak sesuai dengan standar pasar dunia.

Masih tentang Plastik

Tentu Faizi harus membawa kembali masalah sampah plastik yang menjadi sendi hampir semua makan dan perangkat makan di sekitar kita. Plastik tampak jauh lebih penting dan menarik daripada apa yang ada di dalamnya.

Dari jajanan pentol sampai geger beras atau telur plastik. Umur penggunaan plastik yang jelas tidak sepanjang umur hidup plastik, pasti lekas menjadi sampah. Faizi pun memberikan penanganan lokal dilakukan oleh SMA 3 Annuqayah, Sumenep, Madura dalam esai berjudul, ”Menuju KTS/P (Kegiatan Tanpa Sampah/ Plastik) di Sekolah”.

Sekolah sengaja meminimkan tempat sampah untuk melatih siswa menunda membuat sampah karena membuang sampah dibuat ”susah”. Banyak tempat sampah justru memicu banyak sampah.

Baca Juga:  Yatim dari Orangtua Seolah-Olah

Faizi menulis meski berkesan ragu, ”Konon, salah satu kota besar di Asia Tenggara, entah di Busan entah di Taipei, tempat sampahnya sangat sedikit bahkan pernah dihilangkan selama beberapa waktu dan hasilnya; warga kota ‘kebingungan’ untuk membuat sampah.

Cara ini konon merupakan teknik ‘mendikte’ agar warga terlatih untuk tidak memproduksi dan membuang sampah.”

Kejahatan terhadap lingkungan termasuk dosa tak terputus, bahkan setelah orangnya mati. Di sini, Faizi langsung menuding penemu(an) plastik, ”‘Usia’ciptaan mereka itu bahkan mungkin tetap ada di atas tanah atau tertimbun hingga sekarang ketika mereka telah lama mati dan dikuburkan.

Konon, butuh 200 tahun bagi tanah untuk dapat mengurai sampah plastik, itu pun jika dibantu oleh paparan sinar matahari. Sungguh, 200 tahun itu waktu yang lama. Jika angka ini dianggap terlalu berlebihan dan mengada-ada, bolehlah dikurangi menjadi 100 tahun saja.

Namun, angka ini juga sangat menakjubkan, alias mengerikan. Itu baru sampah plastik biasa, lho. Kalau styrofoam beda lagi: ia dapat kita gambarkan secara hiperbolis dengan frasa akan rusak sehari sebelum kiamat.”

Dalam soal makanan berbungkus plastik, orang-orang bertanggung jawab menghabiskan makanan tetapi tidak mengurus bungkus plastik.

Faizi memang cenderung membawa pandangan makan dan cara makan secara teologis kultural. Ibadah sering menekankan pada ritus wajib, belum sampai pada keimanan kepada lingkungan.

Barangkali karena cara baca itulah yang membuat pembaca akan merasakan di beberapa bagian tulisan lekat dengan nuansa seruan atau khotbah, meski tidak terlalu muluk menggurui.

Sepertinya karena keterbatasan ingatan pada referensi, Faizi banyak menggunakan kata ”konon” untuk memaklumi keraguan pada persoalan pasti yang sedang dihadapi umat di bumi.

Merusak Bumi dari Meja Makan bisa diupayakan menjadi santapan sebelum makan. Bukan orang-orang Barat (saja) yang paling berkepentingan mengawal isu gawat penyelamatan bumi, terutama dari hal primordial di keseharian kita: makan!

  • Resensi ini sebelumnya telah terbit di koran Suara Merdeka, Minggu, 19 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *