Ulasan Buku

Memotret Persoalan Ekologi dari Lubang Sedotan

“Abad neraka” merupakan istilah yang dicatat David Wallace-Wells dalam buku The Uninhabitable Earth untuk menyebut tahun-tahun ketika buana tidak lagi bisa dihuni karena terlalu panas. Pada abad mendatang, suhu bumi diperkirakan naik sekitar empat hingga delapan derajat celcius. Dengan suhu demikian, kita tidak lagi bisa membayangkan bentala sebagai firdaus yang permai.

Merusak Bumi dari Meja Makan karya M. Faizi memang tidak seambisius buku Wallace-Wells. Kumpulan esai ini memotret persoalan ekologi dari lubang sedotan. Plastik, tisu, dan sisa makanan merupakan elemen-elemen gastronomi destruktif yang diproduksi nyaris semua manusia saat ini. Kita tidak sadar bahwa kiamat tidak lahir dari sangkakala Israfil, tetapi merayap dari meja makan.

Faizi mengkritik laku makan orang-orang kini berperan besar menghancurkan lingkungan. Manfaat utama makanan memang tidak bisa disangkal. Namun, dengan perspektif katastrofik, buku ini juga membeberkan aib makanan dan segala watak jahatnya.

Sepiring makan siang yang terhidang di hadapan kita melintasi trayek yang tidak mudah, melibatkan berbagai pihak, dan menguras banyak energi. Maka, menyisakan makanan dan membuangnya merupakan perbuatan amoral. Menyia-nyiakan sebutir nasi di atas piring menjadi tidak etis ketika kita sadar bahwa satu di antara tujuh orang di dunia mengalami kelaparan. “Ketika kamu hendak makan yang enak-enak, ingatlah mereka yang harus berpahit-pahit lebih dulu hanya agar bisa makan” merupakan pesan etis buku ini kepada kita yang kerap mencampakkan sisa makanan.

Bagi Faizi, kelas menengah/atas merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Dengan modal ekonomi yang dimiliki, mereka menghabiskan banyak energi, termasuk makanan. Laku konsumsi orang-orang ini seringkali melampaui batas.

Meja makan kaum kelas menengah/atas kerap menguarkan bau anyir kemubaziran. “Menahan ingin dalam situasi serba-mungkin itu lebih berat daripada ketika kita tidak punya atau terlarang sama sekali,” catat Faizi. Jangan karena punya banyak uang, kita membeli semuanya, menyisakannya, lalu membuangnya.

Baca Juga:  Yatim dari Orangtua Seolah-Olah

Ketimpangan ekonomi dan bencana kelaparan terjadi karena nafsu yang tidak dikendalikan. Dalam buku ini disebutkan bahwa perang besar sering terjadi hanya karena rebutan jatah makanan, yaitu pertikaian antara gerombolan yang merasa kurang dengan yang takut kekurangan, sedangkan korbannya, yaitu mereka yang memang kekurangan. Faktanya, perasaan kurang kerap menjangkiti orang kaya, bukan fakir miskin. Perasaan kurang menjelma sifat serakah yang menghabisi segalanya.

Kritik atas laku konsumsi dalam buku ini dikomparasikan dengan dietary ala Islam dan gastrosofi yang bersumber dari kebajikan tradisonal Madura. Meski tidak seintens buku Greendeen: What Islam Teaches about Protecting the Planet karya Ibrahim Abdul-Matin, Merusak Bumi dari Meja Makan mampu menyindir habis-habisan tabiat konsumtif umat Islam yang tidak sesuai Al-Quran, hadis, maupun risalah para ulama. Tentang kebiasaan di bulan Ramadan, misalnya, buku ini mengecam umat Islam yang semestinya mengendalikan diri, malah mengumbar kebrutalan syahwat konsumsi.

Faizi acapkali mengutip dalil naqli yang kerap luput dari perhatian umat Islam, padahal penting. Sejumlah dalil dinukil, lalu diberi konteks baru sehingga menghasilkan nuansa semantis yang berbeda. Namun, yang paling dialektis dari buku ini, yaitu paparan Faizi tentang kontestasi polemis antara muslim vegan dengan nonvegan di Australia.

Di satu sisi umat Islam berkewajiban melestarikan tradisi kurban, tetapi di sisi lain, mereka juga dituntut berpartisipasi dalam mengatasi petaka kelaparan yang melanda dunia.

Walapun ditulis dengan gaya jenaka, isu yang diangkat buku ini amat urgen dan penting untuk dibaca. Sayang, elaborasi Faizi atas isu ekologi berhenti di pendekatan antroposentrisme. Andai memperluas renungan dengan sudut pandang deep ecology, barangkali Faizi bisa berapologia atas dalil-dalil religius yang melegitimasi klaim supremasi manusia di antara makhluk hidup lainnya; superioritas manusia yang kerap dikritik para ekolog sebagai biang kerok agama terhadap musibah ekosistem.

  • Artikel ini terbit sebelumnya di Jawa Pos, 16 Februari 2020
Baca Juga:  Menggugat Asumsi Stabilitas Alam

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *