Credit photo: Cantrik "Kolase"

Dalam tulisan ini, saya akan mengeksplorasi problem-problem “Alam” yang diasumsikan stabil dengan terlebih dulu menyodorkan pertanyaan mendasar: apakah “Alam” (atau secara spesifik “Bumi”) adalah entitas yang memiliki kestabilan, homeostatis, atau ekuilibrium? Apakah efeknya bagi diskursus ekologi?

Pertanyaan tersebut muncul karena didorong oleh banyaknya diskursus ekologi yang mengasusmsikan bahwa “Alam” adalah sesuatu yang stabil dan, karena ulah manusia, kestabilannya menjadi rusak. Saya punya kecurigaan tersendiri mengenai asumsi tersebut, sebab, seperti akan dieksplorasi lebih lanjut, asumsi itu bisa saja membuat diskursus ekologi lumpuh dalam menghadapi permasalahan aktual, yakni Antroposen (akan dibahas selanjutnya).

Pernahkah ada kondisi “Alamiah” itu di Bumi ini? Menurut Daniel Botkin, “Alam” dikarakterisasikan oleh perubahan, bukan konstan. Bahkan, ia menyebut keadaan balance of Nature sebagai mitos.[i] Selain itu, menurut Raymond Williams, “sebagian besar dari apa yang kita sebut lanskap natural…adalah produk desain dan kerja manusia.”[ii] Artinya, “Manusia”, dengan berbagai macam pola aktivitasnya yang beragam dan juga di berbagai tempat yang berbeda, telah selalu memengaruhi “Alam.”

Sekarang, para Geolog mengusulkan bahwa Bumi saat ini tengah berada di era baru, yakni era Antroposen. Sebelumnya, menurut skala waktu geologis, Bumi berada di era Holosen. Term Antroposen pertama kali digagas oleh Paul Crutzen dan Eugene Stoermer. Apa yang membuat Bumi beralih menuju Antroposen ialah akumulasi aktivitas “Manusia”, sekali lagi dengan berbagai macam pola aktivitasnya yang beragam dan juga di berbagai tempat yang berbeda, yang mampu mengubah Bumi secara fundamental. Perubahan itu terjadi pada daratan, atmosfer, perairan, laut, keragaman hayati, perubahan karbon, nitrogen, fosfor, dan sulfur. Seperti yang diungkapkan Crutzen dan Stoermer, “bagi kami adalah hal yang pantas untuk menekankan peran sentral manusia dalam geologi dan ekologi dengan mengajukan penggunaan term “antroposen” untuk epos geologi saat ini.”[iii]

Dari sudut pandang geologis, Bumi tidak pernah berada dalam satu kondisi yang “stabil” atau “harmonis.” Jeremy Davies menjelaskan bahwa geohistory atau sejarah Bumi sangat dipengaruhi oleh kontingensi atau sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Bumi tidak selalu seperti apa yang ada saat ini. Bumi selalu berubah karena adanya benda hidup dan nonhidup. Seperti yang dipaparkan Davies: “Kehidupan sejak dahulu adalah daya geofisik [geophysical force]…Benda hidup, di satu sisi, dan benda geofisik seperti batuan dan iklim di sisi lain, adalah, secara mendasar, bagian-bagian tak terpisahkan dari siklus ekologis yang bekerja di permukaan Bumi.”[iv] Artinya, adanya benda hidup dan nonhidup selalu memengaruhi bagaimana keadaan Bumi, atau kalau bisa disebut “Alam.”

Diusulkannya Antroposen menjadi era baru dalam geologi menunjukkan bahwa kestabilan “Alam” itu tidak ada, sebab Bumi, yang dalam sejarahnya telah melalui berbagai keadaan, kini tengah berada dalam perubahannya secara fundamental. Dalam arti, apa yang diandaikan sebagai kondisi “Stabil” tengah mengalami perubahan. Dengan beralihnya Bumi menuju Antroposen, akan ada banyak yang tidak diketahui mengenai Bumi, sebab secara fundamental ia sudah berbeda karakternya dengan pada masa Holosen. Itulah mengapa, Crutzen menyebut era Antroposen sebagai “terra incognita” atau dunia yang belum diketahui.[v]

Justru, kestabilan “Alam” yang diandaikan selama ini adalah kestabilan Bumi di era Holosen, sebab, menurut Davies, “Holosen menjadi penting bagi manusia karena itulah satu-satunya epos geologis yang memungkinkan manusia membangun peradabannya hingga sampai saat ini.”[vi] Dengan begitu, kembali ke pertanyaan di atas, menurut saya, tidak ada basis argumen apa pun yang melandasi asumsi mengenai kestabilan “Alam.” Selain itu, “Alam”, atau mungkin lebih tepat Bumi, tidak pernah ada dalam kondisi konstan atau stabil, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Konsep “Alam” yang stabil itu adalah konsep yang khas pada sejarah pemikiran Barat periode Romantik. Gerakan Romantisisme yang berkembang pada pertengahan abad 18 adalah perlawanan terhadap gerakan Pencerahan yang lekat dengan usaha rasionalisasi terhadap “Alam.” Upaya mereka banyak direalisasikan dalam sastra, musik, dan seni rupa. Konsep “Alam” di periode ini diandaikan sebagai sesuatu yang telah hilang dari “Manusia.” “Alam” menjadi sosok yang menandakan sumber penyembuhan, keutuhan, kemurnian yang telah dirusak oleh “Manusia.” Menurut penjelasan Timothy Morton mengenai pemikiran Romantik, “kerusakan yang telah terjadi memisahkan subjek dari objek, yang kemudian membuat manusia teralienasi dari dunianya.”[vii] Solusi dari keterpisahan itu ialah menjembatani keterpisahan subjek, dalam arti lain “Manusia”, dan objek, dalam arti lain “Alam,” atau yang disebut Schelling sebagai rekonsiliasi.

“Alam”, atau lebih tepatnya Bumi, selalu berubah. Lebih dari itu, kini perubahan Bumi secara fundamental tengah terjadi. Yang harus dimengerti ialah: transisi menuju Antroposen bisa bersifat sangat lama dan tidak ada jalan kembali.[viii] Artinya, Bumi tidak bisa di-“arah”-kan kembali menuju Holosen.

McKenzie Wark menyatakan bahwa Antroposen menandakan kematian “Tuhan yang masih bersembunyi di balik pandangan dunia [worldview] ekologi yang self-correcting, self-balancing, dan self-healing.”[ix] Wark bahkan menyatakan bahwa dengan adanya Antroposen:

 

“Manusia bukan lagi menjadi sosok yang berada di latar depan [foreground] yang mengejar kepentingannya sendiri berhadapan dengan latar belakang [background] totalitas siklus organik yang mungkin diusik manusia, tetapi masih bisa tetap berada dalam keseimbangan dan harmoni jika manusia menarik diri [withdraw] dari ekses.”[x]

Artinya, asumsi mengenai Bumi atau “Alam” yang memunyai kondisi “Ekuilibrium” yang terganggu sehingga menjadi “Disekuilibrium” mesti ditolak. Dengan menganggap bahwa ada “Ekuilibrium” yang harus direstorasi, justru memberikan optimisme palsu bahwa masih ada “Stabilitas” atau “Harmoni” yang bisa diselamatkan dengan mengurangi ekses konsumsi atau eksploitasi sebagian besar “Manusia.” Sayangnya, apa yang dihadapi saat ini lebih dari itu. Sebagaimana diserukan oleh Wark: “Peradaban ini sudah berakhir. Dan kita semua mengetahuinya.” [xi]

Lebih jauh lagi, menyatakan bahwa Bumi atau “Alam” berada di kondisi “Disekuilibrium” sama halnya dengan menyatakan bahwa “ini tidak akan lama.” Inilah yang juga dikhawatirkan oleh Bruno Latour. Secara spesifik ia mengkritik penggunaan term ‘krisis ekologi.’ Alasannya sama: “membicarakan tentang sebuah ‘krisis’ hanya aka jadi cara lain untuk meyakinkan diri kita, berkata bahwa “ini juga akan terlewati.”[xii] Masalahnya, apa yang kita hadapi saat ini, bagi Latour, bukan lagi krisis, melainkan mutasi. Itu berarti: “kita terbiasa dengan dunia yang ini; sekarang kita melewati batas, memutasi dunia itu menjadi yang lain.”[xiii] Antroposen itulah yang dimaksud Latour sebagai mutasi. Ini sama dengan apa yang dikatakan Wark sebagai berakhirnya ‘peradaban’ ini. Maka, problemnya bukanlah bagaimana mengembalikan kondisi “Ekuilibrium” seperti semula, tetapi, seperti yang dijelaskan Davies, bagaimana menanggapi masa transisi menuju Antroposen ini.[xiv]

Kesimpulannya ada dua: Pertama, asumsi kestabilan “Alam” tidak bisa dipertahankan karena tidak didukung oleh bukti saintifik. Asumsi itu berasal dari tradisi Romantik yang secara filosofis dan santifik tidak bisa dipertahankan. Kedua, asumsi kestabilan “Alam” justru membawa diskursus ekologis tidak bisa menghadapi problem aktual yang dibawa Antroposen, sebab Antroposen membawa perubahan fundamental pada cara kerja Bumi.


[i] Adrian Ivakhiv, “Whose ‘Nature’?”, artikel Konferensi American Academy of Religion dengan tajuk “‘Nature Religion’ as a Theoretical Construct”, 1999.

[ii] Raymond Williams, “Ideas of Nature”, dalam Problems in Materialism and Culture (London: Verso, 1980), hlm. 78.

[iii] Paul Crutzen dan Eugene Stoermer, “The Anthropocene”, Global Change Newsletter, 41, (2000), hlm. 18

[iv] Jeremy Davies, The Birth of the Anthropocene (California: University of California Press, 2016), hlm. 60-61.

[v] Paul Crutzen, “Geology of Mankind”, Nature, 415(6867), (2002), hlm. 23.

[vi] Ibid, hlm. 5.

[vii] Timothy Morton, Ecology Without Nature (Cambridge: Harvard University Press, 2009), hlm. 22.

[viii] Will Steffen, et.al., “Stratigraphic and Earth System Approaches to Defining the Anthropocene”. Earth’s Future, 4, 324345, (2016).

[ix] Ibid.

[x] McKenzie Wark, Molecular Red: Theory for the Anthropocene (New York: Verso, 2015), tanpa halaman.

[xi] Ibid, hlm. Th.

[xii] Bruno Latour, Facing Gaia: Eight Lectures on The New Climate Regime, terj. Catherine Porter (Cambridge: Polity Press, 2017), tanpa halaman.

[xiii] Ibid.

[xiv] Davies, op.cit, hlm. 208.