Sejak filsafat pertama kali muncul, manusia selalu bertanya tentang hakikat segala sesuatu. Namun, pertanyaan itu sampai saat ini selalu tidak bisa dijawab dengan baik. Walaupun telah dijawab selama beratus-ratus tahun, tetap saja tidak memuaskan manusia itu sendiri.

Pertanyaan itu adalah seputar hakikat ada. Dalam filsafat, ada itu disebut ontos. Sedangkan ilmu yang mempelajari sesuatu yang ada adalah ontologi. Lalu pertanyaannya, dapatkah manusia yang terbatas mengetahui sesuatu yang absolut, yang tak terbatas? Pertanyaan ini adalah pertanyaan filosofis yang hendak dijawab dalam buku yang berjudul Ontoantropologi ini. Buku ini merupakan kajian mendalam penulisnya terhadap yang ada sebagai realitas, dalam perspektif Quentin Meillassoux.

Buku ini adalah tentang apa yang disebut di sini sebagai ontoantroplogi, yaitu pandangan ontologis yang meletakkan manusia sebagai jangkar dari keberadaan segala sesuatunya (hal. 13).  Buku ini mencoba memberikan refleksi kritis akan proyek filsafat Meillassoux. Yang menjadi perhatian adalah apa yang disebut dengan realitas absolut. Ternyata buku ini menunjukkan keterbatasan dari upaya Meillassoux tersebut. Tugas filsafat adalah membongkar tabir yang selamanya menghalangi kita untuk melihat presentasi murni dari yang absolut (hal. 14).

Inspirasi dari penulisan buku ini adalah pemikiran Matin Suryajaya yang ingin menggapai sesuatu yang absolut. Di samping itu, tulisan Muhammad Al-Fayyadl menjadi inspirasi kedua, terutama artikelnya tentang “bunuh diri kelas”. Inspirasi ketiga adalah saat Yosie, penulis buku ini dan beberapa kawannya mendapat kesempatan untuk mendirikan suatu organisasi eksperimental, yaitu Koperasi Riset Purusha (hal. 15).

Salah satu aliran filsafat yang membahas tentang ada adalah Realisme. Realisme itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah sudut pandang filosofis tentang ada. Bagi Realisme, selain manusia, alam di luar dirinya merupakan sesuatu yang independen. Sementara, gagasan Meillassoux adalah Realisme Spekulatif yang mengembangkan paham Realisme. Namun demikian, agak kurang cocok apabila dikatakan bahwa Realisme Spekulatif  adalah penerus dari tradisi Realisme tersebut. Realisme tradisional mayakini keberadaan realitas eksternal dan objek  yang sama sekali independen dari pikiran kita (hal. 34).

Di samping itu, buku primer Meillassoux yang dibahas Yosie adalah Apres La Finitude. Buku tersebut dipandang sebagai representasi utama dari Realisme Spekulatif.  Tulisan-tulisan lain dalam bentuk artikel jurnal atau makalah diskusi/seminar yang masih di seputaran tema dan ide yang dibahas buku ini juga dibahas sebagai bahan pelengkap (hal. 59).

Pemaparan Yosie dalam buku ini menggunakan perspektif Psikoanalisis Lacanian yang sudah direkonstruksi dengan berbagai pendekatan. Dengan perspektif tersebut, dapatlah ditemukan ketidaksadaran Meillassoux, bahwa ia kembali pada ontoteologi yang hendak ia kritik. Ibarat bumerang yang mengarah pada dirinya sendiri (hal. 59).

Menggunakan kerangka ontologi Lacanian, buku ini mempertahankan sebuah klaim bahwa terdapat dimensi ketidaksadaran dalam Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux saat mengklaim mengenai ada terdapatnya dunia di luar manusia yang keberadaannya independen dari seluruh korelat keberadaan manusia (hal. 261).

Menurut Meillassoux, cara terbaik dalam berfilsafat untuk mengetahui yang absolut yaitu dengan berpikir mendalam tentang sesuatu di luar diri manusia sebagai individu. Ia sebut sebagai “sisi luar” (outside). Menurutnya, “sisi luar” tersebut adalah dimulai dari kulit luar manusia sampai tanpa batas di luar dirinya. Sedangkan “sisi dalam” (inside) dalam diri manusia adalah sisi dalam dari kulit luar manusia itu sendiri.

Yang paling culas tentunya adalah seruan ajakan Meillasooux dalam memberikan arahan ke mana filsafat sebaiknya mulai berpikir: yaitu “keluar dari diri kita sendiri”, merengkuh yang ada pada dirinya sendiri,  untuk mengetahui apakah sesuatu dengan atau tanpa keberadaan kita” (hal. 270).

Dengan demikian buku ini semakin menegaskan bahwa realitas absolut itu tidak akan pernah dicapai tanpa memahami manusia secara utuh, di mana ia merupakan jangkar ontologis. Karena itu upaya untuk memahami yang absolut harus dilakukan secara holistik. Idealisme, ternyata, tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Seperti apa yang telah dipahami oleh Meillassoux.

Sementara dalam konteks filsafat kontemporer, buku ini mengingatkan kita semua agar dalam berfilsafat selalu ada sistem dialektika, sebuah pikiran dialektis yang semestinya tidak absolut. Tapi terdapat relativitas di dalamnya, bahkan kita mengistilahkan dengan Absolutely Relative. Seperti yang diungkap oleh para filsuf masa modern.  Buku ini mengajak kita untuk terus merenungi keajaiban Tuhan, alam, dan manusia.

Ulasan buku ini boleh dikatakan cukup serius. Sepertinya Yosie melakukannya dengan tuntas. Bahkan buku ini dikerjakan bukan dengan waktu yang sebentar. Sekitar kurang lebih tujuh tahunan, Yosie bergelut dengan pemikiran Meillassoux.

 

*Tulisan ini merupakan resensi penulis yang dimuat sebelumnya di Koran Jakarta pada Sabtu 04 November 2017 yang lalu.