Writing saved my life

Slavoj Žižek

 

Secara enigmatik, tulisan memang terasa seperti horor. Jadi, apa yang telah ditulis Taufiqurrahman tentang “Horor Tulisan” memang ada benarnya. Namun, term “horor” untuk merepresentasikan sebuah tulisan yang “hidup dengan satu pokok gagasan”, dapat diperdebatkan secara filosofis cukup dengan satu pertanyaan: “horor tulisan” pada dirinya, esensialis ataukah nonesensialis?

Jukstaposisi dua perkara itu penting karena kecenderungan berat pada salah satunya akan menyeret si empunya pada satu pinggir kutub yang tak pernah akur dalam filsafat: realis atau antirealis. Derrida, misalnya, jelas berdiri di kutub yang menolak dengan pedas bahwa tulisan tidak pernah hadir sebagai entitas.

Tulisan—dalam istilah Muhammad Al-Fayyadl—selalu tilas. Deskripsi apa pun yang mencoba mengeksplisitkan tulisan sebagai bentuk entitas sama sekali bukan cara Derridean.  Saya kadang tidak puas dengan Derrida, terutama soal penyematan nama dalam setiap buku-bukunya. Bukankah kehadiran nama penulis dalam sampul buku justru mengandaikan “metafisika kehadiran” yang ditolak sendiri oleh Derrida?

Seorang Derridean semisal Muhammad Al-Fayyadl akan menjawab: “Nama hanya penanda. Ia menandai subjek yang telah retak oleh tulisan. Jadi, nama pun tilas.” Saya sepakat bahwa nama sebagai penanda bisa jadi memang tilas disebabkan oleh kemerdekaan kita dalam memperlakukan tulisan Derrida. Membaca tulisan Derrida tidak sama dengan mendengarkan ceramah Derrida.

Namun penanda itu sendiri susah untuk tidak jatuh pada yang esensial—meski ini berisiko keluar dari cara Derridean dan masuk ke jalur abjeksinya Julia Kristeva—terutama karena kita belum bisa membayangkan bagaimana nasib buku Derrida andaikata diluncurkan tanpa menerakan namanya. Apa yang akan jadi penanda? Dapatkah kita mengandaikan sesuatu ketilasan dalam ketidakhadiran nama penulisnya?

Jawaban atas pernyataan itu bisa panjang sekali. Dan tempat ini tidak akan memadai menampungnya. Di sini, saya hanya akan berupaya mendedah sisi kemenduaan tulisan yang sudah disinggung oleh Taufiqurrahman melalui kritik Derrida terhadap Platon bahwa tulisan mengandung racun dan pharmakon. Term “horor” lebih dekat sebagai racun ketimbang sebaliknya. Melalui pengalaman Žižek, saya akan mengurai bagaimana tulisan bisa menjadi pharmakon, atau obat bagi racun-racun.

Jika bagi Taufiqurrahman tulisan sedemikian mencekam sehingga menampak seperti hantu, maka tidak bagi Žižek. Bagi Žižek, tulisan justru menyelamatkan. Seorang filsuf yang mengaku realis ini, sudah sejak awal mengatakan bahwa manusia pada dasarnya jahat (evil), egois (egotistical), dan memuakkan (disgusting). Pandangan pesimistis macam ini sudah dikemukan Schopenhauer jauh sebelum Žižek.

Atas dasar pandangan pesimistis ini, Schopenhauer semasa hidupnya lebih percaya kepada anjingnya ketimbang kepada manusia. Bahkan, konon, ia tidak mau potong rambut di tempat pemotongan rambut biasa karena khawatir kepalanya dipenggal dari belakang oleh si pemotong rambut tersebut. Schopenhauer hanya percaya pada dirinya, anjingnya, dan tulisan-tulisannya.

Žižek sepertinya mewarisi kehidupan Schopenhauer. Ia mengakui bahwa dirinya lebih sering bertindak agresif, bukan bapak yang baik, dan bahkan berkonflik dengan orangtuanya. Ia menikah tiga kali dan selalu didera konflik. Istri pertamanya adalah Renata Salect, filsuf perempuan Slovenia yang berakhir dengan perceraian. Kemudian ia menikahi model cantik Analia Hounie. Tidak lama kemudian bercerai dan Žižek menikahi Jela Krečič, jurnalis Slovenia. Dengan yang terakhir ini pun, Žižek bermasalah.

Dalam pengakuannya yang jujur Žižek berkata: “Tahun lalu, karena masalah cinta pribadi, aku sempat ingin bunuh diri selama beberapa minggu. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Aku bisa saja bunuh diri, tapi aku punya teks untuk diselesaikan. Pertama, aku akan menyelesaikannya terlebih dahulu, baru aku akan bunuh diri.’ Tapi begitu teks satu selesai ditulis, muncul teks lain, begitu seterusnya, karena itu aku bertahan hidup (here I still am)”.

Bagi Žižek (dan juga mungkin bagi saya), yang horor adalah jalan hidupnya sendiri, sementara tulisan adalah jalan lain yang dapat menyelamatkannya dari kehororan bertubi-tubi. Dua ekses tulisan (seperti diandaikan Platon), dengan demikian, selalu bertungkus lumus di dalam horizon pengalaman manusia. Menjadi racun atau pharmakon tidak bisa dilepaskan dari pengalaman subjektif penulisnya.

Sebagai seorang realis, Žižek sudah pasti menempatkan tulisan/teks sebagai perkara yang mengapar di jantung imanensi. Maka wajar jika dalam mengapropriasi tulisan, Žižek mendudukkannya sebagai “pelarian teraman” dari ganasnya kenyataan. Pernyataan “writing saved my life” yang keluar dari mulut Žižek jelas-jelas khas realis, yang dalam derajat tertentu, esensialis. Dan ini bertolak belakang dengan cara pandang Derredian.

Manusia-manusia realis akan menempatkan tulisan sebagai bagian dari kenyataan yang imanen. Karena ia sudah selalu terbingkai oleh pengalaman-pengalaman subjek. Konsekuensinya, konteks distingsi Platon terhadap tulisan (apakah ia racun atau pharmakon) sebenarnya dapat dijelaskan dengan konsep katharsis-nya Freud.  Katharsis dipinjam Freud dari bahasa Yunani untuk menjelaskan dinamika pelepasan tegangan emosional yang selalu terepresi karena tidak sesuai dengan prinsip realitas (reality principles).

Dalam kerangka ini, tulisan dan pengalaman tak bisa dipisahkan. Jadi, apakah tulisan itu bersifat esensialis atau nonesensialis sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional subjek. Pun sama dengan posisi realis dan antirealis dalam memandang tulisan.

Makanya, ketika Taufiqurrahman menulis esensialisasi “horor tulisan” secara visual, sebenarnya ia secara lirih ingin mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Žižekian ketimbang Derridean. Bahwa pada akhirnya, tulisan memang mampu menyelamatkan dari ganasnya kenyataan!