Tiga layar utama itu berkibar dan bersahutan dari kejauhan: Syekh Nawawi al-Bantani (Islam), Multatuli (sastra), dan Christiaan Snouck Hurgronje (pengetahuan). Bagaimana pergulatan mereka di laut Banten abad ke-19 membentuk masa lalu dan masa kini kita?
Buku ini menelusuri dialektika tiga layar utama itu: Syekh Nawawi yang menabur bara antikolonial melalui sanad dan kitab-kitabnya, Eduard Douwes Dekker (Multatuli) yang mengiris hati nurani penjajah lewat novel Max Havelaar, dan Christiaan Snouck Hurgronje yang mengintervensi dengan pengetahuan sebagai strategi kuasa. Melalui ziarah reflektif yang menggabungkan genealogi spiritual Islam dan wacana kritis poskolonial. Buku ini mengungkap bagaimana Banten menjadi ruang hibrida, yang mana perlawanan lahir bukan hanya dari pedang, melainkan juga dari kata, doa, dan intervensi intelektual-mengajak pembaca bertanya: apakah bara Syekh Nawawi Banten masih menyala dalam kesadaran kita hari ini?
