Buku ini menyingkap tabir kekerasan seksual di pondok pesantren; ruang yang selama ini dipersepsikan suci, aman, dan bermoral. Kasus Bechi di Jombang hanya salah satu potret kecil yang menunjukkan betapa kompleks dan rumit persoalan kekesaran seksual di pesantren. Ia bukanlah peristiwa tunggal atau penyimpangan individual, melainkan persoalan sistemik yang berurat akar pada relasi kuasa yang timpang.
Otoritas keagamaan, doktrin kepatuhan, dan konsep keberkahan menjadikan pelaku berada pada posisi yang nyaris taktersentuh, sementara korban terperangkap dalam rasa takut, rasa bersalah, dan kebimbangan moral. Dalam konteks ini, pengungkapan kekerasan bukan sekadar soal keberanian personal, melainkan perjuangan melawan struktur yang membungkam.
Sebagai “orang dalam” pesantren, penulis buku ini tidak segan mengurai fakta-fakta gelap pondok pesantren yang selama ini mungkin tabu dibicarakan. Ia juga menolak narasi penyangkalan yang menyebut kekerasan seksual di pesantren sebagai isu yang “dibesar-besarkan”. Melalui analisis kasus, kesaksian korban, dan telaah relasi kuasa berbasis gender dan agama, buku ini menegaskan bahwa minimnya laporan bukan bukti ketiadaan kekerasan, melainkan indikator kuat dari kukuhnya mekanisme represi, normalisasi, dan intimidasi.

