Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang sosial dan kultural yang menyimpan potensi besar dalam merespons krisis ekologi kontemporer. Buku ini menyajikan refleksi mendalam tentang hubungan antara iman, ilmu, dan ekologi melalui lensa tradisi pesantren, terutama Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat.
Di pesantren ini, praktik keberagamaan bersentuhan langsung dengan alam: menanam sebagai amal ibadah, mengaji sebagai proses penyingkapan spirit ekologis melalui wahyu, dan ngelmu sebagai medan laku hidup yang berakar pada kearifan lokal sekaligus berorientasi pada keberlanjutan ekologis.
Lebih jauh, buku ini juga menyoroti politik ekologi pascakolonial: bagaimana warisan kolonialisme dalam bentuk eksploitasi alam, kapitalisme agraria, dan hegemoni epistemik masih memengaruhi relasi manusia dengan lingkungan. Nanam, Ngaji, Ngelmu bukan sekadar catatan akademik, melainkan undangan untuk membayangkan—juga melipatgandakan—peran pesantren dalam membangun peradaban ekologis yang berkelanjutan sekaligus berakar kuat pada iman.
