Di mana ajaran tasawuf paling radikal dan kontroversial—wahdatul wujud—masih hidup, bernapas, dan berbicara dalam konteks kekinian? Jawabannya: di jantung sastra Indonesia modern.
Buku ini membuka sebuah pemetaan intelektual yang menelusuri bagaimana konsep kesatuan wujud itu diartikulasikan—dari gejolak spiritual Amir Hamzah, imajinasi mistis Danarto yang memadukan Jawa dan Islam, hingga kritik sosial Emha Ainun Nadjib.
Sebagai kajian sastra, buku ini juga menunjukkan bahwa puisi dan prosa Indonesia modern telah menjadi medan artikulasi yang sangat ekspresif, kritis, dan kreatif bagi wahdatul wujud, sebuah ruang di mana doktrin yang sering dianggap esoteris itu justru menemukan bentuknya yang paling personal, filosofis, dan bahkan praksis. Melalui buku ini, sastra menjadi laboratorium keimanan yang terus menggodok makna keberadaan manusia di hadapan Yang Mutlak.
Siapakah sebenarnya kita dan di mana posisi kita dalam kesatuan wujud yang satu ini?

