Sumber: Cantrik Kolase

Saya akan memulainya dengan salah satu kalimat pembuka paling terkenal di dunia: “Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich[i] & Guizot[ii], kaum Radikal Prancis[iii], dan mata-mata polisi Jerman.”[iv] Pertanyaan yang kemudian tebersit ialah, bagaimana mungkin seorang materialis sejati seperti Marx dan Engels menuliskan kata “hantu” yang sedemikian abstrak?

Mungkin ini tak lain hanyalah suatu cara beretorika, hal yang wajar dalam sebuah teks propaganda partai. Tapi ketika ditilik lebih lanjut, ada hal menarik setelah itu. Marx dan Engels menambahkan bahwa: “Telah tiba saatnya para komunis memperlihatkan, kepada seluruh dunia, konsepsi-konsepsi mereka, tujuan-tujuan mereka, dan tendensi-tendensi mereka; bahwa mereka melawan dongeng hantu komunis dengan manifesto partai itu sendiri.”[v]

Kata “melawan dongeng hantu” mengindikasikan hantu itu hanyalah dongeng! Ia tak eksis. Namun jika direnungkan secara saksama, kita akan segera melihat bahwa rumusan kata-kata kedua sahabat itu tidak memuaskan: bagaimana mungkin pengaruh dongeng itu begitu dahsyat? Bukankah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sebuah dongeng? Ataukah ide komunisme hanya hantu belaka?

Pernyataan ini menjadi menarik ketika menyandingkan “hantu komunisme” dengan pandangan Derrida. Derrida menyatakan bahwa sebuah tulisan dapat mengantarkan kita kepada keberhinggaan—dalam konteks ini, tulisan yang dimaksud adalah Manifesto of the Communist Party. Bukanlah Tuhan yang menulis kalimat itu, tapi Marx dan Engels, dan mereka berdua harus menemukan suatu formulasi, yang mungkin tidak adekuat; formulasi itu tampaknya mengkhianati sesuatu yang baru saja men-différance-nya, karena meskipun tidak ada hantu, pada masa itu terdapat sesuatu yang orang lihat berada di mana-mana walaupun demikian tak nyata. Sebuah paranoia yang tentu saja telah menggelayuti masyarakat kapitalis bahkan sampai saat ini.

Hantu Kapitalisme yang Datang Kembali

Waktu terus bergulir. Dan 145 tahun berikutnya, dalam suatu konteks yang sama sekali lain, Hantu-hantu Marx terbit pertama kali pada 1993[vi], yang pada waktu itu Uni Soviet telah runtuh, atau secara banal dapat dikatakan “kebangkrutan dunia komunis”. Di sini Derrida menyoroti dua hal penting. Pertama, sebuah keadaan yang buruk bagi buruh, sebab krisis kapitalisme yang tak terelakkan—yang lebih tepat dikatakan sebuah krisis bagi kaum buruh, karena buruhlah yang paling pertama mengalaminya—datang kembali. Krisis itu tak pernah benar-benar berhenti, dan Marx adalah hantu yang datang kembali (revenant) secara radikal dari fenomena kapitalisme itu sendiri. Dengan demikian perkataan Marx bahwa:

“Borjuasi, di mana saja ia telah dapat memperoleh kekuasaan … telah menghanyutkan getaran yang paling suci dari damba keagamaan, dari gairah keksatriaan, dari sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menjatuhkan harga diri dengan nilai-tukar, dan sebagai ganti dari kebebasan-kebebasan tak terhitung jumlahnya yang telah disahkan oleh undang-undang yang tak boleh dibatalkan itu, ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tidak berdasarkan akal—Perdagangan Bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti dengan ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.”[vii]

Saya menginterpretasikan bahwasanya borjuasi sampai saat ini masih terus menghantui para buruh dengan “penghisapan yang diselimuti ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.” Betul perkataan Marx bahwa kapitalisme mengalami krisis, tapi di sisi lain buruhlah yang harus menanggung penderitaan paling besar dari krisis tersebut.

Kedua, pandangan naif dari kaum demokrat-liberal yang terlihat tergesa-gesa—pascabubarnya Uni Soviet. Mereka menyatakan tentang kemenangan definitif demokrasi liberal dan hantu-hantunya sebagai “sebuah akhir sejarah”—argumen Francis Fukuyama bisa jadi contoh yang relevan. Derrida melukiskan halusinasi ini demikian: “Sebutlah suatu ciri (akan terdapat sepuluh ciri, dalam kenyataannya) suatu hal yang berisiko menyedot euforia kapitalisme demokrat-liberal atau sosial-demokrat ke dalam halusinasi mereka yang paling gelap dan memabukkan, bahkan ke dalam kemunafikan yang semakin histeris, dalam wujud retorika formal dan yuridis hak-hak asasi manusia.”[viii]

Sepuluh ciri yang mengisi tabel kapitalisme buatan Derrida sangatlah menarik. Kita dapat mengatakan bahwa ciri-ciri itu semuanya ditemukan hari ini: pengangguran dan deregulasi perburuhan yang melahirkan berbagai bentuk kesengsaraan baru, kaum tunawisma, perang ekonomi, ketakberdayaan mengatasi  kontradiksi-kontradiksi pasar liberal, “semakin bengkaknya utang luar negeri yang menjungkalkan sebagian besar umat manusia ke dalam keputusasaan”, meningkatnya pembangunan industri senjata, penyebaran senjata atom, perang antaretnis yang terkait dengan fantasi arkais tentang komunitas sejati, peran para mafia dalam narkoba, ketakberdayaan instansi-instansi internasional yang membuat mereka semakin saling bergantung. Tabel itu benar adanya. Derrida juga bicara tentang politisi yang menjadi artis televisi. Menariknya Marx juga mengatakan bahwa:

“Cukuplah untuk menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulangnya secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Di dalam krisis-krisis ini tidak saja sebagian besar dari hasil-hasil barang yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan terdahulu, dihancurkan secara periodik.”[ix]

Namun sayang yang terjadi saat ini bahwa “Tenaga-tenaga produktif yang tersedia … mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan adanya milik borjuis[x] tidak terjadi. Hal yang terjadi adalah makin lemahnya serikat-serikat buruh dan terpecah belahnya kaum-kaum tertindas. Dengan demikian, krisis-krisis yang seharusnya dapat menciptakan kebangkitan bagi kaum proletariat malah berbalik dan memperparah kehidupan mereka. Dengan demikian, hantu-hantu kapitalismelah yang berbalik menghantui kaum proletariat. Hal ini tentu saja menjadi momok menakutkan sampai pada akhirnya kaum proletar bangkit dan mau memperjuangkan dirinya sendiri.

Sejarah (Per)tentang(an) Kelas

Dalam “Fisika Sejarah: Sejumlah Mini-Tesis”, Muhammad Al-Fayyadl mengakui bahwa: “Kita berada dalam suatu masa di mana katup Sejarah telah dilepas, dan Sejarah bergerak tanpa tujuan. Tak ada lagi tujuan transendental yang menjadi “akhir Sejarah”—di mana umat manusia tiba pada suatu babakan yang mengakhiri semuanya secara dramatis. Tak ada “surga Sejarah”, tempat umat manusia menemukan pemuasannya atas makna Sejarah, dan dengan gampangan mengatakan: “Sejarah telah berakhir”. Segala yang pernah hadir di masa lalu dapat muncul dan muncul kembali; setiap saat dapat menjadi Sejarah, dapat meledak menjadi Sejarah.”

Namun, Marx menulis bahwasanya Sejarah dari semua masyarakat:[xi] yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.”[xii]Jika kita menilik lagi pada pandangan Derrida tentang sejarah hal tersebut sangatlah berbeda. Pergeseran konteks-konteks adalah kondisi niscaya agar muncul suatu sejarah. Sejarah sebagai disiplin pengetahuan yang berusaha mengetahui sejarah yang bergulir, dan Derrida tampaknya menulis untuk melawan kembalinya sejarah positivis yang menyatakan bahwa “hanya ada fakta-fakta”, yang masing-masing memiliki singularitas konteks dan tidak memberi tempat bagi bentuk repetisi apa pun.

Bagi Derrida, sejarah tidak lagi merupakan sejarah karena kita tidak dapat membebaskan masa lampau—tidak dapat membebaskan maknanya, signifikansinya, dan beberapa pola penjelasannya. Kita harus mencermati bahwa sejarah positivis itu secara harfiah adalah mustahil, karena untuk mengatakan bahwa “sejarah” hanya ada fakta-faktanya kita haruslah menggeser suatu peristiwa ke dalam konteks bentuk kehidupan masa lampau pada saat itu.

Secara sederhana kita dapat menambahkan bahwa, bagi Derrida, tidak akan ada Sejarah dengan ‘S’ besar, tetapi beragam sejarah yang dapat bersilangan. Artinya, ada banyak sekali varian sejarah yang maknanya tidak pernah tunggal. Dengan demikian, sejarah dengan ‘S’ besar tidak dapat dijelaskan oleh perjuangan kelas, tetapi sejarah “perjuangan kelas” hanyalah salah satu varian dari Sejarah dengan ‘S’ besar tersebut.

Sampai di titik ini perjuangan kelas tidak harus berkecil hati, sebab ada benarnya perkataan Hegel bahwa, “Burung hantu Minerva hanya akan mengepakkan sayapnya saat senja telah penuh.” Sejarah boleh saja pecah menjadi narasi-narasi kecil yang setiap saat dapat meledak menjadi narasi besar yang dapat tamat seketika atau bertahan lebih lama, tergantung pada konfigurasi hal-ihwal yang terlibat di dalamnya. Bahkan di dalam fisika pun, katup Finalitas yang absolut itu juga telah dilepas.

Kosmologi tidak dapat memperkirakan bentuk akhir Semesta: remuk, tercabik, atau meluas. Artinya adalah, selama bumi belum berhenti berputar dan mentari masih menyingsing di ufuk Timur kita belum dapat memastikan apakah nol adalah ketiadaan atau ketakterbatasan; kehancuran atau kelahiran baru. Saya hanya bisa berharap dan berjuang bahwa perjuangan kelas merupakan sebuah kelahiran baru yang dapat membawa ide komunisme menjadi wacana dominan. Semoga.


[i]Metternich (1773-1859), Perdana Menteri Kerajaan Austria-Hongaria.

[ii]Guizot (1787-1874), Perdana Menteri Prancis yang reaksioner.

[iii]Kaum Demokrat-Republiken borjuis ketika itu. Penulis-penulis dan kaum politikus terkemuka yang menentang Sosialisme dan Komunisme… Marrast adalah salah seorang di antara pengikut-pengikut mereka.

[iv] Marx dan Engels, Marx/Engels Selected Works, Volume One, Progress Publishers, Moscow, USSR, 1969, pp. 98-137. Diakses lewat https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/manifesto/ch01.htm#bab1.

[v]Ibid.

[vi] Jacques Derrida, Specters of Marx, Routledge, New York, 1994.

[vii]Op.Cit. Marx dan Engels, Manifesto of the Communist Party.

[viii]Op.Cit. Jacques Derrida, Specters of Marx.

[ix]Op. Cit. Marx dan Engels, Manifesto of the Communist Party.

[x]Ibid.

[xi]Dalam tahun 1847, masyarakat prasejarah, organisasi masyarakat yang ada sebelum sejarah yang tertulis, hampir seluruhnya tidak diketahui. Sejak itu, Haxthausen mendapatkan hak milik bersama atas tanah di Rusia, Maurer membuktikannya sebagai dasar timbulnya masyarakat bangsa-bangsa Jerman dalam sejarah, dan kemudian persekutuan-hidup desa ternyata merupakan atau telah merupakan bentuk primitif dari masyarakat di mana-mana mulai dari India sampai ke Irlandia. Susunan inti dari masyarakat yang bersifat Komunis primitif ini menjadi terang, dalam bentuknya yang khas, dengan pendapatan Morgan yang gemilang mengenai sifat yang sebenarnya dari gen dan hubungannya dengan suku. Dengan bubarnya persekutuan-persekutuan-hidup yang primitif ini maka mulailah masyarakat terpecah menjadi klas-klas yang terpisah-pisah dan akhirnya bermusuhan. Saya telah mencoba mengusut kembali proses pembubaran ini dalam buku: “Der Ursprung der Familie, des Privateigenthumsund des Staats”, edisi kedua, Stuttgart 1886. (Keterangan Engels pada edisi Inggris tahun 1888).

[xii]Op.Cit. Marx dan Engels, Manifesto of the Communist Party.