Ulasan Buku

Mengabdi dan Mengabadi di Priangan

Dulu, bocah-bocah di sekolah sering mendapat penjelasan singkat tak jelas dari guru bahwa Junghuhn (1809-1864) itu nama yang berkaitan dengan kina. Biografi tokoh dan sejarah tentu tiada. Junghuhn lumrah diingat gara-gara kina, bukan sastra.

Ia memang terbaca para ilmuwan dunia, tapi memiliki pesona berselera sastra. Di tulisan dengan kaidah-kaidah ilmiah, ia tak sungkan mengutip puisi gubahan para pujangga Jerman.

Kita membuka buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1985) yang ditulis kembali oleh Dick Hartoko. Sumber pokok buku itu adalah Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys.

Pada 13 Oktober 1835, lelaki asal Jerman bernama Franz Wilhelm Junghuhn tiba di Batavia. Ia memang ingin bekerja di Nusantara. Di Eropa, ia memiliki latar pendidikan kedokteran, tapi berminat besar pada botani dan geologi. Sastra tentu menjadi santapan untuk menguatkan gairah menafsir segala hal dan mencipta kebahagiaan.

Di buku yang memuat biografi pendek dan capaian keilmuan itu, kita mendapat keterangan agak penting: “Pada 1854, secara anonim, ia menerbitkan Bayangan Terang dan Gelap dari Pedalaman Pulau Jawa. Sebuah alegori yang menampilkan empat orang kakak beradik: Malam, Siang, Fajar, dan Senja.

Mereka mengadakan suatu perjalanan di Pulau Jawa dan sambil melaporkan pengalaman mereka dan menyajikan lukisan-lukisan tentang keindahan alam, masing-masing memaparkan pandangan hidupnya.” Jawa memang terlalu memikat bagi Junghuhn.

Semula, publik Eropa terpukau oleh terbitan buku Junghuhn berjudul Java (1850), yang menjelaskan geografi, geologi, flora, fauna, peta, dan lain-lain. Tahun demi tahun, ia berkelana di Jawa dengan segala bekal dan pamrih keilmuan.

Tempat terindah bagi Junghuhn adalah Priangan. Ia terikat dan terpikat pada gunung-gunung di Priangan. Ia meneliti dan menjadikan studi dalam tulisan dan gambar. Junghuhn mungkin beranggapan “utusan” dari langit untuk menunaikan dakwah dan ibadah di Priangan.

Ia memiliki iman naturalisme, tak terpaku pada agama-agama besar yang dianut orang-orang di pelbagai negeri. Selama di Priangan, ia memang girang dan memberi pengabdian pada ilmu-seni.

Keberserahan Junghuhn di Priangan terbaca dalam kutipan saat ia mengembuskan napas terakhir, 24 April 1864. Ia saat itu tinggal di lereng Gunung Tangkuban Parahu.

Baca Juga:  Metafora Ibu Bumi dalam Perspektif Ekofeminisme

Berkatalah ia kepada dokter: “Dapatkah membuka jendela-jendela? Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunungku yang tercinta untuk terakhir kalinya. Aku ingin memandang hutan-hutan. Sekali lagi, aku ingin menghirup udara pegunungan.” Ia berasal dari Jerman, mengabdi dan mengabadi di Priangan.

Petikan dan ingatan itu mengantar kita ke buku berjudul Sunda Abad ke-19: Tafsir atas Ilustrasi-ilustrasi Junghuhn garapan Hawe Setiawan. Buku ini bergelimang pujian atas biografi dan studi Junghuhn.

Hawe Setiawan menulis segala persepsi Eropa pada abad XIX: “Di Jawa, orang Eropa mendapatkan tempat merealisasikan selera, cara pandang, dan kebiasaan sambil menyerap anasir-anasir pribumi.” Pergi ke Jawa, Junghuhn bukan berlaku sebagai turis.

Ia adalah ilmuwan dan pegawai pemerintah. Junghuhn memenuhi panggilan Jawa. Kedatangannya ke Hindia Timur membuktikan kesibukan-kesibukan ilmiah: geologis, vulkanologis, klimatologis, botanis, arkeologis, etnografis, dan lain-lain.

Jari-jari Junghuhn tak cuma menulis. Ia juga menggambar meski sempat berterima dengan penggunaan kamera. Konon, fotografi tak terlalu memuaskan. Junghuhn tetap tekun memuat ilustrasi atau sketsa atas sekian studi di Priangan. Ketekunan itu merekam peta geografis, sketsa lanskap, tetumbuhan, manusia, dan pemandangan.

Hawe Setiawan di kekaguman atas ketekunan Junghuhn selama di Priangan: “Ada kalanya dia mengawali catatannya dengan memetik puisi dari Schiller dan Goethe, dan ada kalanya petikan puisi Jerman muncul di tengah permenungannya. Catatan-catatan yang dibuatnya di lapangan itu juga menyerupai risalah akademis serta pemerian ensiklopedis.”

Di hadapan buku-buku garapan Junghuhn, Hawe Setiawan mengembara jauh. Junghuhn itu Priangan! Kegemaran ke gunung-gunung mengandaikan Junghuhn selalu ingin berada di ketinggian ilmu, seni, dan iman.

Di sekian gambar, Junghuhn tampak memihak ke alam. Di situ, manusia sengaja digambar dengan ukuran kecil. “Bahkan, pada beberapa gambar, terlihat betapa manusia tak ubahnya noktah-noktah yang hampir tak terlihat di tengah keluasan bentangan alam,” demikian Hawe Setiawan menulis.

Baca Juga:  Renungan Lokal untuk Isu Global

Pada alam dan gunung-gunung, Junghuhn mengerti iman dan mengejawantahkannya ke dalam kerja ilmu-seni. Ia memang romantikus dan sanggup membahasakan secara puitis ke pembaca di Eropa. Jawa itu tempat ibadah.

Studi atas ilustrasi-ilustrasi Junghuhn mengenai Priangan membuat Hawe Setiawan tergoda membuat kalimat bertabur ketakjuban. “Baginya, gunung-gunung tak ubahnya dengan altar-altar di dalam semacam gereja maha besar yang berupa alam raya dengan langit-langit yang bertaburan bintang-gemintang.”

Bahasa itu terpengaruh oleh tulisan-tulisan Junghuhn. Kita belum beruntung. Buku-buku Junghuhn belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Pada 1867, Junghuhn menulis: “Saya tergabung dalam gereja berkubah tinggi.” Metafora iman mengacu pada gunung atau alam.

Iman terbuktikan dengan kegirangannya selama berada di Jawa. Pengalaman mengembara dan studi di Priangan semakin membuat Junghuhn mengerti bahwa ia memang “utusan” untuk Priangan, bukan Eropa. Iman itu terbedakan dalam tiga predikat selama menunaikan ibadah: penjelajah, peneliti ilmu alam, dan pegawai kolonial. Ia memang beribadah di Priangan, tapi hasil dari studi diinginkan jadi bacaan bagi orang-orang Eropa.

Kehadiran buku Hawe Setiawan anggaplah pengantar bagi kita berharapan menjadi pembuka halaman-halaman buku warisan Junghuhn. Kita bersabar menanti buku-buku itu terbit dalam bahasa Indonesia. Hawe Setiawan bukan pengantar awal untuk mengenali Junghuhn.

Sekian tulisan mengenai Junghuhn sudah terbit di Indonesia, sejak puluhan tahun lalu. Pembaca majalah Intisari edisi Oktober 1984 ingat dengan suguhan artikel Luwarsih mengenai Junghuhn. Pembuka tulisan itu: “Tanggal 28 Oktober ini ia genap 175 tahun. Penyelidik Jerman ini perlu dikenang karena ia banyak berjasa untuk Indonesia.”

  • Resensi ini sebelumnya pernah terbit di Tempo 19-20 Oktober 2019